Institusi

  • Prev
Mamuju,6/04/2021- Bupati Mamuju Hj. Sitti Sutinah Suhardi, SH, M.Si didampingi Kepala Balitbangtan BPTP Sulawesi Barat Dr.Ir.Nurdiah Husnah, M.Si Bersama Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Mamuju, Perwakilan Balitsereal, Komandan Dandim 1418, Pimpinan Bank Indonesia, Perwakilan Bank Sulselbar, ...
Mamuju, 6/04/2021- BPTP Sulawesi Barat melakukan diseminasi teknologi Balitbangtan melalui pameran mini di Lokasi Tanam Perdana Komoditas Jagung di Desa Topore Kec. Papalang Kab. Mamuju. Beberapa teknologi hasil inovasi Balitbangtan yang diseminasikan di antaranya VUB padi, VUB Jagung dan VUB Kedele. Dan beberapa tanaman SDG diantara loka jonjo, Porang, keladi tikus, dan hasil olahan pasca ...
Mamuju, 01/04/2021- KUR Pertanian merupakan salah satu upaya negara untuk memastikan kesejahteraan bagi para petani di seluruh Indonesia dan membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Salah satu persiapan pelaksanaan acara tanam jagung perdana yaitu pembukaan buku rekening secara kolektif bagi petani calon penerima KUR bertempat di Kantor Desa Topore Kec. Papalang Kab. Mamuju(1/04). ...

Info Teknologi

Thursday, 04 July 2019 16:52

Polman, 4/07/2019- Kegiatan Pemanfaatan lahan Kebun percobaan di Kabupaten Polman diinisiasi dengan melakukan kajian budidaya jagung spesifik lokasi dengan Sistem Tanam Tumpang sari (TURIMAN) Jagung_Kedelai dan Sistem Tanam Monukultur Jagung dan Kedelai dengan Luasan 2 Ha. Dalam kegiatan tersebut melibatkan petani...

Monday, 27 March 2017 01:13

Buah pisang merupakan jenis buah yang paling sering kita temui dimana-mana, baik diperdesaan atau diperkotaan dan boleh dikatakan tanaman yang sangat merakyat, karena bisa tumbuh dihampir disetiap daerah. Sulawesi Barat termasuk salah satu pusat biodiversity atau keaneka-ragaman sumberdaya genetik di Indonesia....

Wednesday, 02 October 2019 14:47

Mamuju, 2/10/2019-BPTP Balitbangtan Sulawesi Barat melalui Kegiatan Peningkatan Komunikasi, Koordinasi dan Diseminasi Inovasi Hasil Balitbangtan melaksanakan kegiatan Displasy Varietas jagung dan Kaji terap bersama BPP Kecamatan Tapplang. Kegiatan awalnya akan dilaksanakan di lahan BPP namun lahan BPP Tappalang...

Monday, 30 November -0001 00:00

Mamuju, 28/03/2019 – Salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteran petani Indonesia adalah dengan menyediakan teknologi pengolahan hasil pertanian. Teknologi pengolahan merupakan teknologi yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya simpan produk-produk hasil pertanian. Produk pengolahan hasil...

Tahukah Anda

Tuesday, 15 March 2016 00:01

Siapa tak kenal bawang putih? Umbinya menjadi bahan utama bumbu dasar masakan Indonesia. Di balik itu, ia memiliki khasiat menurunkan kadar kolesterol dan sebagai antibiotik alami di dalam tubuh manusia. Sudah sejak lama bawang putih menjadi bahan baku obat alami. Beberapa penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa ekstrak umbinya bisa menurunkan kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat di dalam daerah secara signifikan. Ia dapat memangkas LDL sebanyak 10-15 % tanpa menurunkan...

Monday, 03 October 2016 06:01

Potensi laut sebagai sumber bahan baku obat-obatan atau biofarmaka laut terus ditelisik. Organisme laut seperti karang ditengarai mempunyai potensi sebagai obat antikanker. Tim mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) meneliti kandungan obat pada karang lunak (Sarcophyton). Mereka adalah Tio Dwi Wibisono Ariefianto Tri Mahadi, Paradita Hasanah, Tri Nur Sujatmiko yang menguak kandungan antikanker dan antibakteri dari ekstrak karang lunak. Tim yang...

Monday, 22 August 2016 04:23

Belum lama ini, kasus vaksin palsu mengguncang Indonesia, Masyarakat pun heboh dan resah. Bayangkan, ada 12 jenis vaksintelah dipalsukan dan beredar di klinik-klinik. Pelakunya ternyata punya latar pendidikan dan berpengalaman sebagai tenaga medis. Kasus ini tentu amat memprihatinkan. Terlebih muncul ketika ada tuntutan serius untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Adik-adik tahu, apakah vaksin? Bagaimana dibuat, dan mengapa penting untuk kesehatan? Awalnya,...

Jelajahi SDG di Tanah Mamasa

Mamasa,17/05/2019-BPTP Sulawesi Barat melalui kegiatan kerjasama Pusat PVTPP dengan BBP2TP-BPTP melakukan koordinasi, inventarisasi dan karakterisasi terhadap beberapa SDG tanaman lokal yang ada di Sulawesi Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk percepatan pendaftaran varietas lokal yang ada di setiap wilayah. Tim percepatan pendaftaran varietas lokal dan Tim SDG yang Terkonservasi dan Terdokumentasi BPTP Sulawesi Barat dibagi dalam dua grup. Salah satu diantaranya adalah Tim yang melakukan kegiatan untuk menjelajahi wilayah Kabupaten Mamasa, yang berlangsung dari tanggal 15 s/d 18 Mei 2019.

Lokasi yang pertama disasar adalah kelurahan Messawa, kecamatan Messawa. SDG lokal yang dikarakterisasi adalah tanaman keladi  (Xanthosoma sp.) yang dikenal dengan nama Upe Lotong.  Karakteristik umbi hitam, rasa enak dan pulen, dan mempunyai aroma yang harum. Jenis keladi lokal ini sudah jarang yang budidayakan karena musuh utamanya adalah kumbang tanah dan babi hutan. Upe Lotong sudah jarang ditemukan di masyarakat meskipun umbinya cukup digemari karena rasanya yang cukup enak. Jumlah yang ditemukan di salah satu petani di Messawa hanya tiga rumpun.  Jenis keladi ini juga masih ditemukan di kecamatan lain seperti di Nosu, namun juga sudah sangat jarang.  Kalaupun ada hanya ditanam petani di kebun yang agak jauh dari pemukiman dan terkadang habis dimakan babi hutan.

Perjalanan survey dilanjutkan ke kecamatan Nosu, kabupaten Mamasa, namun tiba di lokasi sudah malam karena jalanan banyak yang rusak. Didampingi oleh petugas penyuluh setempat, Tim melakukan survey dan karakterisasi terhadap padi lokal. Survey padi lokal dilaksanakan di  Desa Minanga Timur, kecamatan Nosu. Dari beberapa jenis varietas padi sawah lokal yang masih dikembangkan di kecamatan Nosu, terdapat 3 varietas yang disenangi oleh masyarakat dan dominan dikembangkan adalah Pare Bittoen (beras putih), Pare Lotting (Beras hitam) dan Pare Ba’da’ (beras merah).  Ketiga varietas lokal tersebut disenangi karena rasanya pulen, nasi tidak mudah basih, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, dan tahan rebah.

Selain ketiga varietas padi lokal tersebut di atas yang sudah eksis di masyarakat Nosu (dan juga sudah terdaftar di Pusat PVTPP), terdapat varietas padi lokal lainnya yang hampir punah yaitu Pare Uban dan Pare Sassan. Pare Uban memiliki karakteristik beras hitam yang berbeda dengan Pare Lotting (yang juga memiliki beras hitam), yaitu warna beras lebih hitam dari Pare Lotting, warna gabahnya putih, dan  rasa nasi yang pulen. Sedangkan Pare Sassan berasnya merah, rasanya pulen dan aromatik. Pare Uban sudah mulai dikembangkan oleh masyarakat karena beberapa kelebihan jenis padi ini, sementara Pare Sassan jarang ditanam petani karena mempunyai potensi yang rendah.  Hal ini disebabkan karena nakannya sangat sedikit. Umumnya petani hanya menanam bersamaan dengan jenis padi lainnya dengan harapan sebagai pemberi rasa aromatik pada saat dimasak.

Sumber Daya Genetik lainnya yang dikarakterisasi adalah di kecamatan Nosu adalah beberapa jenis talas (Colocasia esculenta sp.). Jenis talas yang dikarakter yang ditemukan di Desa Siwi Kec Nosu antara lain Upe Bo’bo’, Upe Riri, dan Upe Tallo’/Upe Busa. Dua jenis talas yang juga sudah jarang ditemukan adalah Upe Bo’bo’ dan Upe Riri.  Upe Bo’bo memiliki umbi warna putih berserat ungu dan pada saat masak berwarna ungu, sedangkan Upe Riri memiliki umbi warna putih berserat kuning dan pada saat masak berwarna kuning. Upe Tallo’memiliki umbi warna putih berbintik kuning kecoklatan dan pada saat masak bintik kuningnya semakin mencolok. Konon katanya diberi nama Upe Tallo’ karena umbinya berwarna kuning telur. Kelebihan lainnya dari ketiga upe tersebut adalah batangnya dapat dijadikan sebagai sayur, dan yang enak dijadikan sayur adalah Upe Riri dan Upe Bo’bo’.

Dalam pertemuan dengan petani pada saat karakterisasi dilakukan disarankan agar pada saat menanam jenis padi yang mempunyai anakan sedikit agar menanam dengan jumlah ankan yang agak banyak per rumpunnya disamping pemberian pupuk yang berimbang.  Juga disarankan agar penanaman padi tidak dilakukan secara campur aduk antar varietas, tetapi dilakukan pemisahan antara varietas satu dengan varietas yang lainnya. Varietas lokal yang masih ada terutama yang sudah didaftarkan harus tetap dilestarikan dan ditingkatkan pemanfaatannya bahkan pemerintah daerah diminta untuk melakukan usulan pelepasan sebagai varietas unggul lokal. Lebih jauh disampaikan bahwa untuk meningkatkan produktivitas padi sawah lokal yang ada di kecamatan Nosu yang masih tergolong rendah, perlu dilakukan penerapan inovasi teknologi dengan pengaturan jarak tanam, penggunaan pupuk secara berimbang, pengendalian hama penyakit secara terpadu dan penanganan pasca panen.(Rely/yen)

AGRINOV TV SULBAR

 

Contact Info

  • E: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • Map (Peta Lokasi)
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…