JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Temu Teknis Pertanian Desa Balla Satanetean Kec.Balla Kab.Mamasa

Mamasa, 12/11/2019-Berlokasi di Kantor Desa Balla Satanetean Kecamatan Balla Kabupaten Mamasa, BPTP Balitbangtan Sulbar melalui LO Kabupaten Mamasa untuk menjadi Narasumber pada “Temu Teknis Pertanian Kelompok Tani Jagung Desa Balla Satanetean”.  LO Kabupaten Mamasa yang juga sebagai Ketua Tim Teknis BPTP dibantu oleh Calon Teknisi melaksanakan tugas tersebut.

Temu Teknis Pertanian Kelompok Tani Jagung merupakan salah satu dari sekian Program Mandiri Cerdas Sehat (MARASA) Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pertanian.  Desa Balla Satanetean  akan mengembangkan jagung varietas Sukmaraga dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat desa. Pertemuan Teknis diikuti lebih dari 40 peserta terdiri atas  pengurus dari Kelompok Tani dan anggota PKK yang ada di Desa Balla Satanetean.  Jumlah Kelompok Tani yang ada di Desa Balla Satanetean sebanyak 10 kelompok, diantaranya KT Jagung Ranteliang dan KT Jagung Simbuang Batu. Temu Teknis ini juga dihadiri oleh salah satu staf rakyatta.com, mediarestorasi.com, lensasulawesi.id yang memuat informasi cetak Mamasa Dalam Berita dan Ujungpandang Ekspres.

Perhatian pemerintah desa Balla Satanetean dalam peningkatan ekonomi masyarakat desa begitu antusias yang tersirat dalam sambutannya pada acara Temu Teknis.  Menurut beliau, keseriusan dan kemauan bertanam jagung tidak cukup untuk bisa meningkatkan produksi jagung yang berdampak pada peningkatan ekonomi, tetapi hal yang penting adalah petani mengetahui dan memahami teknologi budidaya jagung, memiliki pengetahuan dan keahlian untuk mengenali bibit unggul bermutu dan teknik budidaya lainnya, terutama penggunaan pupuk dan pengaturan jarak tanam.  Oleh karena itu, beliau meminta Narasumber dari Kementerian Pertanian, Badan Litbang Pertanian yang ada di Provinsi, yaitu BPTP Balitbnagtan Sulawesi Barat sebagai penyedia teknologi spesifik lokasi dan Balitsereal Maros sebagai penyedia benih berkualitas.  Kedua Narasumber nantinya diharapkan dapat menyampaikan informasi teknologi seputar teknologi jagung. Diakhir sambutan Kepala Desa Balla Satanetean menyampaikan bahwa ke depan kerjasama pendampingan dengan  kedua lembaga penelitian  ini dapat lebih  ditingkatkan, baik dibidang pangan maupun hortikultura.  Di lokasi Kantor desa juga akan dibangun gedung pertemuan dan tempat pondokan sehingga diharapkan dapat lebih optimal.  Kepala Desa secara simbolis memberikan bantuan benih jagung varietas Sukmaraga kepada salah satu Kelompok Tani, dan akan diikuti dengan pemberian bantuan pupuk urea dan NPK Phonska. Pupuk tersebut diharapkan nantinya diberikan pada tanaman jagung sesuai rekomendasi dan tidak disalahgunakan untuk tanaman lainnya.

Selanjutnya sebagai narasumber dalam Temu Teknis tersebut adalah Ketua Tim Teknis BPTP Sulawesi Barat, Ir. Marthen P. Sirappa, M.Si yang juga merupakan peneliti senior dan LO UPSUS Pajale untuk Kabupaten Mamasa. Materi yang disampaikan terkait dengan Teknologi Peningkatan Produktivitas Jagung, yang mengulas mulai dari penggunaan benih bermutu sampai dengan penanganan panen dan pasca panen.  Penekanan dititikberatkan pada teknologi budidaya jagung khususnya varietas unggul bermutu, pengaturan jarak tanam dan pemupukan yang berimbang. Hal ini terkait dengan kondisi agroekosistem wilayah Mamasa yang sebagian besar tanah tergolong tanah yang tidak subur dengan jenis tanah Podsolik /Ultisol dengan kelerengan yang bergunung, miskin unsur hara dan bahan organik serta pH tanah yang tergolong agak masam.  Dalam diskusi dengan peserta Temu Teknis diperoleh informasi bahwa petani umumnya belum menerapkan teknologi jagung dengan tepat, salah satu diantaranya adalah penggunaan pupuk yang belum tepat, baik menyangkut jenis, dosis, cara pemberian maupun waktu pemberian. 

Petani di Desa Balla Satanetean umumnya hanya memberikan pupuk urea atau NPK Phonska saja atau Urea dan NPK Phonska namun dalam dosis yang masih rendah, yaitu 50 kg urea dan 100 kg NPK Phonska.  Selain itu waktu pemberian umumnya hanya satu kali yaitu pada umur di atas 21 hari setelah tanam dengan rata-rata produktivitas yang dicapai masih rendah, yaitu kurang dari 3 t/ha. Dilanjutkan narasumber lainnya dari Balitsereal Maros, Bapak H. Arsyad Bisa, M.Si.  Beliau menjelaskan tentang beberapa kelebihan varietas Sukmaraga diantaranya toleran dengan kemasaman tanah.  Selain Sukmaraga, varietas Nasa juga dapat dicoba dikembangkan di Mamasa karena di beberapa daerah cukup adaptif di dataran tinggi. Jagung juga dapat menambah nilai ekonomi keluarga melalui pengolahan hasil jagung diantaranya dengan membuat marning jagung.

Di akhir kegiatan Temu Teknis setelah sesi diskusi dilakukan pengujian status hara hara di sekitar lokasi Kantor Desa dengan menggunakan Perangkat Uji Tanah Kering.  Dalam analisis contoh tanah dilakukan praktek yang diikuti oleh petani.  Hasil pengujian dengan PUTK menunjukkan bahwa status hara P tergolong rendah, K tergolong sedang, pH tanah agak masam (5-6), dan C-organik rendah.  pH tanah dengan lalat ukur pH meter juga menunjukkan nilai yang sama, yaitu berkisar antara 5, 5 – 6.  Dengan demikian, rekomendasi pemupukan untuk jagung untuk lokasi tersebut adalah 350 kg urea (dengan pupuk organik) dan 400 kg urea (tanpa pupuk organik), 250 kg SP-36/ha, 75 kg KCl/ha, 2 ton pupuk organik,  dan 1-2 ton kapur.(MPS)