JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Polman,30/07/2018- Sebagian masyarakat Kabupaten Polman, Sulawesi Barat mungkin banyak yang merasa asing atau belum mengenal varietas Black Madras yang konon katanya asalnya dari Negeri Sakura “Jepang”.

Jenis padi dari Negeri Sakura itu telah diujicobakan di lahan P4S Haji Ambo’na Yanda seluas seperempat hektar dengan menerapkan komponen PTT padi sawah diantaranya adalah penerapan sistim tanam jajar legowo 2:1 dan Jajar Legowo 4:1 dan tentunya didukung, pemupukan berimbang dan pengendalian OPT secara terpadu.

Awalnya petani merasa aneh melihat tanaman padi Black Madras yang daunnya berwarna ungu. Ada yang mengira tanaman padi itu salah semprot sehingga daunnya hangus, ada yang mengatakan terserang penyakit atau hama bahkan ada yang mengira tanaman sayuran baru. Karena padi Black Madras itu ditanam di piggir jalan tani masuk sanggar tani P4S Haji Ambo’na Yanda dan termasuk pinngir pemukiman masyarakat sehingga membuat banyak pengunjung yang sengaja datang untuk mengambil dokumentasinya untuk diabadikan.

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan Black Madras menunjukkan umur panen 110 hari setelah hambur, rata-rata jumlah anakan produktif 17,80 anakan/rumpun, panjang malai 23,18 cm, jumlah biji per malai 140,40 biji (biji hampah 24,27 dan biji berisi 119,47). Hasil riil dilapangan produktivitas black madras dengan penerapan sistim tanam jajar legowo 2:1 adalah 6,6 ton/ha sedangkan untuk legowo 4:1 adalah 8,1 ton/ha.

Anakan termasuk kurang bila dibandingkan dengan varietas lainnya yang rata-rata mencapai 30 anakan/rumpun. Sehingga untuk pengembangan black madras perlu penambahan populasi yaitu penanaman dengan sistim tanam jajar legowo ganda.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah daunnya berwarna ungu yang menjadi daya tarik petani dan banyak yang berminat untuk mengembangkannya. Yang menjadi kendala saat ini adalah belum bisa disertifikasi karena asal-usul benihnya belum jelas.(rel)