JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Polman, 10/09/2019- Provinsi Sulawesi Barat masih melakukan panen di tengah kondisi kemarau. Panen dilaksanakan di hamparan sawah P4S Haji Ambo’na Yanda, Desa Paku, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman. Panen padi dilakukan pada kisaran luasan 100 ha. Di wilayah ini juga merupakan lokasi perbanyakan benih sumber VUB padi melalui kerjasama dengan P4S Haji Ambo’na Yanda, Puslitbang Tanaman Pangan dan BPTP Balitbangtan Sulawesi Barat. Terdapat beberapa varietas unggul padi yang dipanen diantaranya Inpari 30 ciherang Sub I, Inpari 32, Inpari 36, Inpari 42, Mekongga dan Inpago 8 yang keseluruhannya  menghasilkan calon benih kelas SS.

Panen tersebut disaksikan langsung oleh Prof Nyoman dan Tim dari Puslitbang Tanaman Pangan, Tim BPTP Balitbangtan Sulbar dan Pengawas Benih Tanaman dari BPSBTPH. Bagi warga Desa Paku, panen tersebut merupakan pengharapan terakhir disaat musim kemarau terik. Panen ini juga merupakan panen terakhir hingga memasuki musim hujan nantinya. Kali ini produksi yang diperoleh petani tidak begitu menggembirakan akibat dampak kemarau yang berkepanjangan. Rata-rata produktivitas yang dicapai petani hanya berkisar 3 s/d 4,5 ton/ha. Selain musim kemarau, penurunan produksi juga disebabkan oleh serangan tikus yang cukup tinggi.

Pada kunjungan tersebut Prof Nyoman menyampaikan salah satu cara untuk mengendalikan hama tikus pada Musim Tanam berikutnya adalah Metode Trap Barrier System (TBS) dan harus dikelola secara berkelompok. Metode tersebut merupakan metode non kimiawi untuk pengendalian tikus pada pertanaman padi di lahan sawah irigasi.

Metode TBS merupakan teknik pengendalian tikus sawah yang terbukti efektif. Prinsip kerja TBS adalah menarik tikus dari lingkungan sekitar sejak awal musim tanam, disebabkan adanya perbedaan umur tanaman perangkap yang ditanam 3 minggu lebih awal dari tanaman padi di sekitarnya. Metode ini memerlukan komponen yang meliputi tanaman perangkap, pagar plastik TBS, dan bubu perangkap.(rely)