JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Menggali Potensi Pisang “Loka” Pere Kabupaten Majene

Buah pisang merupakan jenis buah yang paling sering kita temui dimana-mana, baik diperdesaan atau diperkotaan dan boleh dikatakan tanaman yang sangat merakyat, karena bisa tumbuh dihampir disetiap daerah.

Sulawesi Barat termasuk salah satu pusat biodiversity atau keaneka-ragaman sumberdaya genetik di Indonesia. Berbagai jenis tanaman buah-buahan memiliki potensi yang bernilai tinggi apabila dapat dikelola dengan baik. Keberadaan beberapa jenis sumberdaya genetik tersebut menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah, sebagai akibat konversi lahan oleh tindakan manusia dan kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu perlu konservasi Sumber Daya Genetik (SDG) tanaman terutama mencegah kepunahannya di daerah-daerah rawan erosi.

Kabupaten Majene merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Barat dengan topografi wilayah yang kondisinya relatif bervariasi yakni pada posisi selatan merupakan daerah pesisir yang relatif datar,sedangkan pada sisi utara merupakan daerah pegunungan. Jarak kabupaten Majene ke ibukota provinsi Sulawesi Barat (Kota Mamuju) kurang lebih 146 km. Ibukota kabupaten Majene terletak di kecamatan Banggae, antara 2o38’45” – 3o38’15” LS dan antara 118o45’00” – 119o4’45” BT. Sumber Daya Genetik di kabupaten Majene memiliki vegetasi tanaman pangan yang beragam yang telah dikembangkan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun masih banyak yang belum dikelola dan dimanfaatkan, sehingga mengalami ancaman kepunahan.

Upaya untuk menggali potensi dan melestarikan plasma nutfah tanaman pangan sangat penting dalam penyediaan sumber daya genetik tanaman, pemuliaan tanaman, konservasi lingkungan dan untuk keragaman jenis tanaman dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan menghadapi perubahan iklim yang sewaktu-waktu dapat mengancam kelestarian hidup jenis tanaman budidaya.

Salah satunya adalah pisang loka pere’ yang merupakan salah satu sumber daya genetik tanaman yang ada di Kabupaten Majene. Namun keberadaan pisang loka pere’ saat ini sangat sulit ditemukan Karena petani tidak begitu memperhatikan sistim budidayanya. Hal ini bisa terjadi karena belum ada nilai ekonomi yang mebedakannya dari jenis pisang lainnya, padahal konsumen cenderung mencari pisang loka pere’.

Jenis pisang loka pere masih ditemukan di Desa Adolang, kecamatan Pamboang, kabupaten Majene pada posisi S: -3,43436 & E: 118,89304 dan ketinggian 113 m dpl. Pada umumnya petani membudidayakan secara tradisional. Pisang loka pere berdasarkan spesiesnya termasuk Musa parasidiaca yang merupakan pisang olahan (plantain), dan juga termasuk dalam Musa acuminata karena bisa dikonsumsi sebagai buah segar.

Loka Pere pernah meraih juara I tingkat nasional yang mewakili Makassar (Sulawesi Barat masih termasuk dalam Sulawesi Selatan) dan jenis pisang ini hanya terdapat di kabupaten Majene.

Menurut Sukiman yang juga Kepala Desa Adolang dan merangkap sebagai ketua Kalompok Tani Tunas Muda dan Ketua KTNA Kec. Pamboang, Kab. Majene bahwa pemberian nama loka pere karena berdasarkan bentuknya yang rata-rata bengkok (bahasa mandar “pere”). Keberadaan loka pere tersebut sudah ada sejak nenek moyang yang dimanfaatkan penduduk sebagai sebagai makanan pokok dalam bentuk loka njoroi (pisang direbus kemudian diberi santan).

Kelebihan jenis pisang ini adalah buah rasanya enak, manis, tetap keras meskipun telah masak dan tahan disimpan lama. Pisang muda dapat direbus dan digoreng. Buah pisang baik yang masih mentah maupun yang sudah masak, juga bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan ringan.  Selain itu batangnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, daunnya sebagai pembungkus makanan dan bonggolnya bisa diolah menjadi kripik bonggol pisang.

Karakter tanaman pisang loka pere terlihat berbeda dengan karakter tanaman pisang  pada umumnya. Loka pere memiliki  tinggi tanaman mencapai 2-3 meter, batang tegak, bentuk batang bulat berwarna hijau, warna pangkal batang hijau, lingkar batang 46-68 cm, jumlah anakan 3-8 anakan.  Sesuai  standar International PlantGenetic Resources Institute (IPGRI), maka dapat dikatakan bahwa tanaman pisang tersebut memiliki tinggi yang normal karena memiliki ketinggian di atas 1 meter.

Pisang loka pere memiliki morfologi daun yang berbentuk panjang pipih, warna tepi tangkai daun ungu kemerahan, bentuk pangkal daun meruncing keduanya, warna daun bagian atas hijau, warna daun bagian bawah hijau mudah, tipe kanal terbuka dan tepi tegak, susunan daun selang-seling dan lain-lain.

Bentuk jantung pisang loka pere bulat lonjong, warna bagian luar ungu kemerahan dan bagian dalam putih kekuningan, dan kedudukan jantung berada diujung batang. Sedangkan buah berbentuk bulat, lurus dan bagian ujung lancip, ukuran buah (panjang 18-19 cm, lingkar buah 13 cm, diameter 4-4,5 cm, warna buah mentah hijau, warna buah matang kuning, warna daging buah mentah putih kekuningan, warna daging buah matang kuning emas, kulit buah tebal, rasanya manis, bentuk tandan buah menghadap keatas, jumlah sisir 5-9/tandan, jumlah buah 16-18/sisir, dan bobot 178-209,4 gram/buah.

Keunggulan lain yang dimiliki adalah: 1. Dapat beradaptasi pada kondisi lahan kering yang solumnya rendah sampai pada ketinggian 500 mdpl; 2. Tahan terhadap serangan hama dan penyakit; 3. Daya tahan periode masak buahnya lama; 4. Walapun buah kelihatan bonyok tapi masih bagus/sebenarnya tidak busuk; 5. Kalau direbus meskipun kelihatan lembek tapi setelah tetap keras kembali; 6. Mudah berkembang biak dengan anakan cukup banyak (4-11/induk) dan buah keluar setelah anakan juga cukup banyak; 7. Sangat muda dikenali dengan banyak ciri khas; 8. Menurut beberapa masyarakat yang sudah menanam di tempat lain pisang tersebut tidak memiliki rasa yang sama; 9. Loka pere dapat dijadikan sebagai olahan pangan lokal seperti kripik pisang; 10. Daun bendera tahan lama (masih hijau, tidak patah dan tidak robek) meskipun buah sudah matang; 11. Buahnya semakin mengkilat bila kena sinar matahari.

Potensi pengembangan pisang loka pere di Kabupaten Majene sangat besar. Diperlukan kerjasama berbagai pihak agar tanaman pisang loka pere dapat dilestarikan baik. Kegiatan konservasi atau pelestarian merupakan suatu bentuk pengelolaan SDG yang bertujuan untuk memelihara dan mengelola SDG tanaman agar terhindar dari kepunahan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Konservasi keragaman genetik dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu secara ex situ dan in situ. In situ berarti melestarikan tanaman pada sebaran alamnya, sedangkan ex situ adalah kegiatan memperbanyak, evaluasi, pelayanan material untuk pemulia, peneliti dan pemakai yang lain, apabila perlu juga melayani pembaharuan koleksi. (Rely)

 

Lasse’ Bambang Buah Legendaris Kabupaten Majene

Langsat (Lansium domesticum) merupakan salah satu jenis buah tropis yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Majene, dan memiliki potensi untuk dikembangkan secara terus-menerus.  Berdasarkan data BPS tahun 2016 banyaknya tanaman langsat  yang sudah menghasilkan di Kabupaten Majene adalah 31.200 pohon dengan produksi sebanyak 1.202,5 ton (BPS Kab. Majene, 2016).

Kabupaten Majene sendiri memiliki langsat lokal yaitu Lasse’ Bambang yang merupakan salah satu buah legendaries yang terdapat di Desa Tande, Kecamatan Banggae. Popularitas buah tersebut terekam dalam lagu dengan kutipan “Lasse Bambangna To Tande”.

Menurut Hasnah (54) penduduk asli Desa Tande menceritakan bahwa asal usul nama lasse’ bambang itu sebenarnya berasal dari nama turunan seorang Raja. Lanjut diceritakan bahwa dahulu  kalah di Desa Tande, Kecamatan Baggae, Kabupaten Majenedikenal ada 7 keturunanan dengan warnah darah (Cera’) yang berbeda-beda, diantaranya: 1. Cera’ maputih (Darah Putih); 2. Cera’ Mamea (Darah Merah); 3. Cera’ Magabu’ (Darah Biru); 4. Cera’ Malotong (Darah Hitam); 5. Cera’ Mariri (Darah Kuning); 6. Cera’ Mekkurarra’ (Darah Hijau); 7. Cera’ Majingga (Darah Jingga).

Ambang merupakan anak keturunan dari cera’ maputih yang meninggal saat masih bayi. Ambang memiliki kulit yang putih dan halus. Tidak berapa lama setelah dikuburkan, tumbuhlah 2 pohon langsat dikuburannya. Langsat tersebut rasanya manis, buah besar dan agak lonjong, serta biji yang jarang ditemukan, atau biji biasanya kempes. Dari situlah langsat tersebut berkembang yang akhirnya diberi nama lassekna ambang (langsatnya ambang). Jadi nama lasse’ bambang sebenarnya adalah lasse’ ambang.

Tanaman Lasse Bambang tersebut masih ditemukan di Dusun Purrau, Desa Tande kecamatan Banggae, kabupaten Majene pada posisi S:0349816-0710982 dengan ketinggian 45-123  m dpl.  Tanaman langsat ini sudah mulai punah karena pengaruh faktor alam (kemarau berkepanjangan), sulit dikembangkan dengan biji (karena tidak/jarang mempunyai biji) maupun dengan cangkok atau tempel mata tunas.  Selain itu, juga kalah bersaing dengan komoditas bernilai ekonomis tinggi, seperti kakao. Tanaman langsat di lokasi tersebut sudah tiga tahun tidak berbuah. (Reli)

Teknologi Produksi Kedelai

Di lahan sawah, kedelai umunya ditanam pada musim kemarau setelah pertanaman padi. Sedangkan di lahan kering (tegalan) kedelai umumnya ditanam pada musim hujan. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balit kabi) telah merakit teknologi produksi kedelai untuk lahan sawah dan lahan kering, dan lahan pasang surut tipe C dan D yang diharapkan dapat meningkatkan produksi dan keuntungan usahatani. Dengan penggunaan varietas unggul baru yang sesuai dan teknologi yang tepat, hasil kedelai dapat mencapai lebih dari 2,0 t/ha.

Varietas dan Benih Unggul

1. Varietas Unggul

  • Semua varietas unggul sesuai untuk lahan sawah.
  • Pilih varietas unggul yang memenuhi sifat-sifat yang diinginkan: ukuran bijinya besar atau kecil, kulit bijinya kuning atau hitam, tolenransinya terhadap hama/penyakit dan kondisi lahan.
  • Dengan teknik budidaya yan tepat, semua varietas unggul dapat menghasilkan dengan baik, di lahan kering atau pasang surut.

2. Benih

  • Benih murni dan bermutu tinggi merupakan syarat terpenting dalam budidaya kedelai. Benih harus sehat, bernas, dan daya tumbuh minimal 85%, serta bersih dari kotoran.
  • Bila mungkin, gunakan benih berlabel dari penangkar benih apabila menggunakan benih sendiri, sebaiknya benih berasal dari pertanaman yang seragam (tidak campuran).
  • Di daerah endemik serangan lalat bibit, sebelum ditanam, benih perlu diberi perlakuan (Seed treatment) dengan insektisida berbahan aktif karbosulfan (misalnya Marshal 25 ST) takaran 5-10 g/kg benih.
  • Kebutuhan benih tergantung pada ukuran benih dan jarak tanam yang digunakan. Untuk benih ukuran kecil- sedang (9-12 g/100 biji), diperlukan 55-60 kg/ha, sedang untuk benih ukuran besar (14-18 g/100 biji) dibutuhkan 65-57 kg/ha.

Pengelolaan Tanah dan Tanaman di Lahan Sawah

1. Penyiapan Lahan

  • Tanah bekas pertanaman padi tidak perlu diolah (tanpa olah tanah= TOT), namun jerami padi perlu dipotong pendek,.
  • Saluran drinase/irigasi dibuat dengan kedalaman 25-30 cm dan lebar 20 cm setiap 3-4 m. Saluran ini berfungsi untuk mengurangi kelebihan air bila lahan terlalu becek, dan sebagai saluran irigasi pada saat tanaman perlu tambahan air
  • Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin),dapat digunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman

2. Penanaman

  • Benih kedelai ditanam dengan tugal, kedalaman 2-3 cm.
  • Jarak tanam: 40 cm x10-15 cm, 2 biji/lubang
  • Untuk menghadiri kekurangan air,sebaiknya kedelai ditanam tidak lebih dari 7 hari setelah tanaman padi dipanen

3. Pemupukan

  • Pada sawah yang subur atau bekas padi yang dipupuk dengan dosis tinggi tidak perlu tambahan pupuk NPK. Sedangkan untuk sawah dengan kesuburan sedang dan rendah takaran pupuk yang digunakan adalah sebagai berikut.
Jenis dan dosis Pupuk organik Jenis Pupuk anorganik Dosis pupuk anorganik (kg/ha)
Untuk tanah kurang subur Untuk tanah cukup subur
Tanpa jerami/pupuk kandang

Urea

SP36

KCI

50-75

75-100

100

25-50

50-75

100

50 ton jerami per hektar

Urea

SP36

KCI

50

75-100

75

25

50-75

75

2 ton pupuk kandang per hektar

Urea

SP36

KCI

25

50-75

75

25

50

50

 

 4. Penggunaan mulsa jerami padi

  • Bila dianggap perlu gunakan jerami sebanyak 5 ton/ha sebagai mulsa dengan cara dihamparkan merata, ketebalan <10 cm.
  • Mulsa bermanfaat untuk mengurangi pertumbuhan gulma, sehingga penyiangan cukup satu kali, yakni sebelum tanaman berbunga. Penggunaan mulsa juga dapat menekan serangan lalat bibit, dan kehilangan ir tanah.
  • Untuk daerah yang tidak banyak gangguan gulma dan tidak berpotensi menimbulkan kebakaran, maka jerami boleh dibakar sebagai sumber pupuk K. Pembakaran jerami segera setelah kedelai ditanam tugal, apabila dilakukan dengan tepat, dapat lebih menyeragamkan pertumbuhan awal kedelai.

5. Pengairan

  • Umumnya budidaya kedelai tidak perlu pengairan, tetapi tanaman kedelai sangat peka terhadap kekurangan air pada awal pertumbuhan, pada umur 15-21 hari, saat berbunga (umur 25-35%), dan saat pengisian polong (umur 55-70 hari). Pada fase-fase tersebut tanaman harus dijaga agar tidak kekeringan.

Pengelolaan Tanah dan Tanaman Di Lahan Kering Masam

1. Penyiapan Lahan

  • Pengolahan tanah dilakukan sekali hingga dua kali (tergantung kondisi tanah).
  • Jika curah hujan masih cukup tinggi perlu dibuat saluran drainase setiap 4 m, sedalam 20-25 cm, sepanjang petakan
  • Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin),dapat digunakan tanah bekas pertanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman kedelai.

2. Penanaman

  • Penanaman dilakukan dengan tugal, dengan jarak tanam 40 x 15 cm atau 30 x 20 cm, 2 biji/lubang.

3. Pengapuran

  • Kapur atau dolomit perlu diberikan dengan takaran ½ dari Al-dd (Alumunium yang didapat dipertukarkan); di berbagai daerah umunya 1-1,5ton/ha. Dolomit selain meningkatkan pH, juga membah kendungan Ca dan Mg. Informasi kadar Al-dd dapat diperolah dari petugas pertanian setempat.
  • Jika dengan pemberian pupuk kandang 2,5 ton/ha, takaran pengapuran cukup 1/4dari Al-dd (500-750 kg dolomit/ha).
  • Dolomit disebar rata bersamaan dengan pengolahan taman kedua atau paling lambat 2-7 hari sebelum tanam
  • Jika diaplikasikan dengan cara disebar sepanjang alur baris tanaman, maka takaran dolomit dapat dikurangi menjadi hanya 1/3 takaran semula

4. Pemupukan dan pengendalian gulma

  • Pupuk NPK diberikan dengan takaran 75 kg Urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCI per hektar. Semua pupuk tersebut paling lambat diberikan pada saat tanaman berumur 14 hari.
  • Penyiangan perlu dilakukan dua kali pada umur 15 dan 45 hari.
  • Pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida dapat dilakukan sebelum pengolahan tanah atau setelah tanam dengan syarat benih ditutup dengan tanah pada saat tanam dan herbisida yang digunakan adalah jenis kontak.
  • Bersamaan penyiangan pertama sebaiknya dilakukan pembubunan tanaman.

Pengelolaan Tanah dan Tanaman di Lahan Pasang Surut Tipe C dan D

1. Penyiapan Lahan

  1. Setelah panen padi, jerami dibabat kemudian dihamparkan dan dibiarkan selama 3 hari agar kering, kemudian dibakar.
  2. Dua minggu setelah jerami dibakar, lahan disemprot dengan herbisisda.
  3. Pada lahan yang pembuangan airnya sulit, dibuat saluran drainase setiap 3-4 m.

2. Penanaman

  1. Gunakan varietas kedelai yang sesuai, misalnya Anjasmoro atau Tanggamus.
  2. Untuk daerah endemik serangan lalat kacang, sebaiknya benih diberi perlakuan dengan insektisida berbahan aktif fipronil (misal Reagent) untuk mencegah serangan lalat kacang.
  3. Cara tanam tugal dengan jarak tanam 40 cm x15 cm, 2 biji/lubang.

3.Perbaikan Lahan (Ameliorasi Lahan)

  1. Ameliorasi lahan denhan pupuk kandang dosis 1 t/ha dan dolomit dosis 750 kg/ha. Sebelum diaplikasikan, pupuk kandang dicampur rata dengan dolomit
  2. Aplikasi dilakukan setelah tanam dengan cara disebar sepanjang barisan tanaman, sekaligus untuk menutup lubang tanam

4. Pemupukan

  1. Dosis pupuk 150 kg/ha phonska+50 kg SP36/ha atau 50-75 kg Urea + 100 kg SP36 50-100kg KCI/ha. Pupuk-pupuk tersebut dicampur rata dan diaplikasikan saat tanaman berumur 15 hari dengan cara dilarik/disebar di samping barisan tanamab dengan jarak 5-7 cm dari tanaman.
  2. Setelah pupuk diaplikasikan, diupayakan pupuk dapat ditutup dengan tanah

5. Penyiangan

Penyiangan dilakukan dua kali. Penyiangan I dengan herbisida saat tanaman berumur 20 hari. penyiangan II (jika diperlukan) dengan tenaga manusia saat tanamaan berumur 40-45 hari.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit sedapat mungkin menggunakan teknik budidaya, seperti penggunaan varietas tanah, sanitasi(membersihkan lahan dan sekitarnya), pemebrian mulsa, pergiliran tanaman, dan tanam serentak.

1. Pengendalian Hama

  • Hama utama pada tanaman kedelai meliputi lalat bibit (Ophiomya phaseoli), ulat pemakan daun seperti ulat grayak (Spodoptera litura), ulat jengkal (Chrysodeixix chalcites), ulat Heliotis sp., ulat penggulung daun (Lamprosema indicata), pengisap polong (Riportus linearis, Nezara viridula, dan Piezodurus hybneri), penggerak polong (Etiella zinkenella), penggerek batang (Melanagromyza sojae), kutu kebul (Bemisia sp), dan kutu daun (Aphis glycines).
  • Pengendalian secara simbolis antara lain dengan memanfaatkan musuh alami hama/penyakit seperti (Trichogramma) untuk penggerek polong Etiella spp. dan Helicoverpa armigera; Nuclear Polyhidrosis Virus (NPV) untuk ulat grayak Spodoptera litura (S/NPV) dan Helicoverpa armigera (HaNPV) untuk ulat buah, serta penggunaan feromen seks untuk ulat grayak.
  • Penggunaan pestisida dilakukan berdasarkan hasil pemantauan, hanya digunakan bila populasi hama telah melebihi ambang kendali. Pestisida dipilih sesuai dengan hama sasaran, dan dipilih yang terdaftar/diijinkan. Informasi mengenai ambang kendali masing-masing hama serta pengendaliannya disajikan pada tabel 1 dan tabel 2.

Tabel 1. Jenis hama penting, umur tanaman terserang dan tingkat bahaya yang ditimbulkan.

Jenis hama Umur tanaman (hari)
<10 11-30 31-50 51-70 >70

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

Ophiomya phaseoli

Melanagromyza sojae

M. dolichostigma

Agrotis spp.

Longitarsus suturellinus

Aphis glycines

Bemisia tabaci

Phaedonia inclusa

Spodoptera litura

Chrysodeixis chalcites

Lamprosema indicata

Helicoverpa sp.

Etiella spp

Riportus linearis

Nezara viridula

Piezodorus hybneri

+++

+

+++

++

+

-

+++

+++

-

-

-

-

-

-

-

-

+

+

+

+

+

+

+++

+++

+++

+

+

-

-

-

-

-

-

-

-

-

+

++

++

+++

+++

++

+

+++

++

+++

+++

+++

-

-

-

-

+

+

+

-

++

++

+

+++

+++

+++

+++

+++

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

++

++

++

+        = kehadirannya saat itu kurang membahayakan;

++      = kehadirannya saat itu membahayakan;

+++    = kehadirannya saat itu sangat membahayakan;

-          = kemungkinan kehadirannya kecil.

Sumber = Tengkano dan Soehardjan (1985).

Tabel 2. Ambang kendali dan alternatif pengendalian hama utama pada tanaman kedelai.

Jenis Hama Ambang kendali  Alternatif pengendalian

Lalat bibit

Ophiomya phaseoli

Melanagromyza sojae

M. dolichostigma

  • 1 imago per 5 baris atau 1 imago per 50 rumpun
  • Tanam serempak, selisih waktu tanam tidak lebih dari 10 hari
  • Rotasi tanaman bukan inang lalat kacang
  • Tanam varietas toleran
  • Mulsa 5-10 t/ha untuk kedelai setelah padi sawah
  • Perlakuan benih untuk daerah endemis (insektisida Carbosulfan)
  • Populasi mencapai ambang kendali pada umur 7-10 hari disemprot insektisida untuk lalat bibit
  • Populasi lalat kacang mencapai ambang kendali pada umur 10-15 hari disemprot insektisida

Ulat Pemakan daun

Chrysodeixis chalcites

Lamprosema indicata

Spodoptera litura

 

  • Intensitas kerusakan baru sebesar 12,5% umur 20 HST dan lebih dari 20% pada tanaman umur lebih 20 HST
  • Pada fase vegetatif, 10 ekor instar 3 per 10 rumpun
  • Pada fase pembungaan 13 ekor instar-3 per 10 rumpun tanaman
  • Pada fase pembentukan polon: 13 ekor instar-3 per 10 rumpun tanaman
  • Pada fase pengisian polong 26 ekor instar 3 per 10 tanaman
  • Tanam serempak selisih waktu kurang dari 10 hari
  • Pemantauan rutin dan pemusnahan telur dan ulat
  • Penyemprotan insektisida setelah mencapai ambang kendali
  • Penyemprotan NPV (dari 25 ulat sakit dilarutkan dalam 500 l air untuk satu hektar)
  • untuk ulat grayak dapat dipakai feromonoid seks 6 perangkap per hektar

Pengisap daun

Thrips

Aphis sp.

Bemisia sp

  • Gejala daun keriting pada kacang hijau
  • Populasi Aphis, Bemisia dan Thrip cukup tinggi
  • Tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari
  • Pemantauan rutin
  • Semprot insektisida

Kumbang kedelai

Phaedonia inclusa

  • Intensitas kerusakan daun lebih dari 12,5%
  • 2 ekor per 8 tanaman atau 1 ekor/4 tanaman
  • Tanam serempak
  • Pemantauan rutin; pungut bila menemukan hama
  • Semprot insektisida pada saat ambang kendali

Pemakan polong

Helicoverpa armigera

  • Intensitas kerusakan daun mencapai lebih dari 2%
  • 2 ekor ulat per rumpun umur lebih dari 45 HST
  • Tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari 
  • Pergiliran tanam 
  • Semprot dengan insektisida bila populasi mencapai ambang kendali
  • Penyemprotan NPV (25 ulat yang sakit dilarutkan dalam 500 l air untuk satu hektar)
  • Tanaman perangkap jagung 3 umur: genjah, sedang dan panjang
  • Lepas parasitoid Trichograma spp.

Penggerek polong

Etiella sp.

Maruca spp.

  • Intensitas kerusakan 2 ekor ulat per rumpun umur lebih dari 45 HST
  • Tanam serempak dengan selisih waktu kurang 10 hari
  • Pergiliran tanam
  • Semprot dengan insektisida bila polpulasi mencapai ambang kendali
  • Pelepasan parasitoid Trichogramma spp

Pengisap polong

Nezara viridula

Piezodorus sp

Riptortus linearis

  • Pemantauan dilakukan umur 42-70 HST
  • Itensitas kerusakan >2%
  • 1 pasang imago per 20 rumpun tanaman
  • Tanam serempak dengan selisih waktu kurang dari 10 hari
  • Pergiliran tanam
  • Semprot dengan insektisida bila polulasi mencapai ambang kendali
  • Penanaman tanam perangkap Sesbania rostrata

 

2. Pengedalian Penyakit

  • Penyakit utama pada kedelai adalah karat daun Phakopsora pachyrzhizi, busuk batang, dan akar Schlerotium rolfsil dan berbagai penyakit yang disebabkan virus.
  • Penyakit karat daun dikendalikan dengan fungisida yang mengandung bahan aktif mancozeb.
  • Penyakit busuk batang dan akar dikendalikan menggunakan jamur antagonis Thrichoderma harzianum.
  • Untuk penyakit virus, dilakukan denganmengendalikan vektornya (yaitu kutu) dengan insektisida deltametrin (seperti Decis 2.5 EC) dosis 1 ml/l air, dan nitroguanidin/imidakloprit (seperti Confidor) dosis 1 ml/l air.
  • Waktu pengendalian disesuaikan dengan kondisi di pertanaman, umunya pada umur 45-50 hari.

Panen Dan Pascapanen

  • Panen dilakukan apabila 95% polong pada batang utama telah berwarna kuning kecoklatan.
  • Panen dapat dimulai pada pukul 09.0 pagi, pada saat air embun sudah hilang.
  • Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang dengan sabit. Hasil panenan ini segera dijemur beberapa hari kemudian dikupas dengan thresher atau pemukul (digeblok).
  • Butir biji dipisahkan dari kotoran/sisa kulit polong dan dijemur kembali hingga kadar air biji mencapaai 10-12% saat disimpan.
  • Untuk keperluan benih, biji kedelai perlu dikeringkan lagi hingga kadar air mencapai 9-10%, kemudian disimpan dalam kantong plastik tebal atau dua lapis kantong plastik tipis.

Sumber: LPTP Sulbar