JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Teknologi Pembuatan Es Krim Pisang

Propinsi Sulawesi Barat memiliki potensi dalam menghasilkan buah pisang hampir seluruh wilayah merupakan daerah penghasil buah pisang, yang ditanam di pekarangan maupun kebun.  Ketersediaan buah pisang dalam jumlah banyak dan beragam varietas sangat berpotensi sebagai bahan  diversifikasi pangan. Buah pisang adalah salah satu buah yang mengandung gizi cukup tinggi dengan nilai kalori 120 kalori dan dilengkapi dengan berbagai macam vitamin dan mineral, selain itu juga, serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak sehingga sangat berpotensi untuk dijadikan produk olahan pangan sehat.

Pengolahan buah pisang merupakan salah satu cara mengatasi melimpahnya buah saat panen raya disentra produksi. Dengan diolah, produk memiliki jangkauan pasar yang lebih luas dan nilai harga jual yang lebih tinggi.  Buah pisang off grade yang memiliki bentuk dan penampilan buahnya kurang menarik, ukuran buahnya kecil dan kulit buahnya kurang mulus dan masak dapat dimanfaatkan menjadi produk olahan.

Masyarakat pada umumnya pemanfaatan buah pisang yang telah matang/masak hanya sebagai buah, atau disajikan dalam olahan sederhana seperti pisang rebus, kolak, pisang goreng dan aneka kue tradisional.

Penanganan pascapanen salah satu tujuannya adalah untuk memperpanjang daya simpan, memberikan nilai tambah dan meningkatkan mutu sehingga dapat memenuhi spesifikasi permintaan konsumen dan pasar. Salah satunya dengan mengolah buah pisang menjadi es krim.

Es krim adalah sejenis makanan beku yang dibuat dari produk susu dan dikombinasikan dengan pemberi rasa (flavor) dan pemanis. Pada umumnya semua masyarakat menyukai es krim. Es krim bukan saja memiliki rasa yang enak, namun es krim juga memiliki beberapa manfaat bagi orang yang mengkonsumsinya diantaranya yaitu merangsang sistem kekebalan tubuh, memiliki gizi yang tinggi, dan menjaga kesehatan jantung.

Cara pembuatan es krim pisang sebagai berikut :

  1. Pisang yang telah matang (500 gram) dihaluskan, disisihkan.
  2. Susu bubuk full cream, gula pasir, tepung maizena, garam, dan air di campur dan diaduk rata kemudian didihkan sambil terus diaduk, setelah mendidih matikan api serta biarkan uap panasnya hilang.
  3. Setelah dingin, mixer hingga encer sambil ditambahkan susu cair kurang lebih 10 menit.
  4. Berikutnya masukkan dalam freezer selama 2 jam.
  5. Selanjutnya dikeluarkan dari freezeer, mixer dengan kecepatan tinggi sambil dimasukkan buah pisang dan SP kurang lebih 20 menit (hingga halus dan mengembang).
  6. Tuang adonan es krim ke dalam wadah tertutup, selanjutnya bekukan di dalam freezer.
  7. Setelah beku, es krim buah pisang sudah siap disajikan. (pina)

Mekongga Idola Petani Mamuju

Mamuju, 14/02/2018- Mekongga merupakan persilangan antara padi jenis Galur A2970 yang berasal dari Arkansas Amerika Serikat, dengan varietas yang sangat populer di Indonesia yaitu IR 64. Umur tanam Mekongga cukup singkat yaitu hanya 116 hingga 125 hari. Secara fisik, bentuk tanamannya tegak dengan tinggi tanaman berkisar antara 91 sampai 106 cm. Anakan produktif 13-16 batang. Bentuk gabahnya sendiri ramping panjang dengan tekstur rasa beras yang pulen karena kadar amilosanya mencapai 23 persen. Bobot 1000 butir gabah Mekongga yaitu 28 gram sehingga kurang lebih potensi hasil varietas ini mencapai 8,4 ton per hektar dengan budidaya yang tepat tentunya( MAJALAH PADI 2009).

Gabah padi ini hampir sama dengan Inpari 6, Inpari 10 dan Inpari 18 (Nurman Ihsan, SP), dan yang menjadi daya tarik Mekongga yaitu karena tahan terhadap serangan hama serta penyakit, seperti serangan wereng coklat biotipe dan penyakit bakteri daun serta biji bulir padi lebih banyak, sehingga memungkinkan menjadi idola bagi petani Mamuju karena mampu menghasilkan produktivitas 6,6 ton/ha pada areal seluas 3 ha dari 20 ha luas hamparan.(yen)

Deskripsi Padi Varietas Mekongga

Nomor seleksi

S4663-5d-Kn-5-3-3

Asal seleksi

A2790/2*IR64

Umur tanaman

116-125 hari

Bentuk tanaman

Sedang

Tinggi tanaman

91-106 cm

Daun bendera

Tegak

Bentuk gabah

Ramping panjang

Warna gabah

Kuning bersih

Kerontokan

Sedang

Tekstur nasi

Pulen

Kadar amilosa

23%

Indeks glikemik

88

Berat 1000 butir

27-28 gram

Potensi hasil

6 ton/ha GKG

Ketahanan terhadap Hama

Agak peka terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3

Ketahanan terhadap Penyakit

Agak peka terhadap hawar daun bakteri strain IV

Anjuran tanam

Baik ditanam di sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl

Pemulia

Z. A. Simanullang, Idris Hadade, Aan A. Daradjat, dan Sahardi.

Tahun dilepas

2004

SK Menteri Pertanian

374/kpts/LB.420/6/2004

(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi)

 

Teknologi Pembuatan Kompos Jerami Padi

 

Permasalahan pupuk hampir selalu muncul setiap tahun di negeri ini. Permasalahan tersebut antara lain adalah kelangkaan pupuk dimusim tanam dan harga pupuk yang cenderung meningkat. Tanpa disadari bahwa penggunaan pupuk kimia secara intensif dapat menyebabkan kesuburan tanah dan bahan organik tanah semakin menurun.

 

          Tanaman Padi adalah merupakan salah satu komoditas andalan nasional yang mempunyai peran penting dalam perekonomian di Indonesia juga merupakan komoditas tanaman andalan di Sulawesi Barat. Pada umumnya pada saat panen padi diangkat ketempat lain sedangkan jerami sisa-sisa penen umumnya dibakar. Menurut Tirto utomo et al (2001) pemanfaatan jerami padi merupakan salah satu alternatif  untuk substitusi penggunaan pupuk kimia.  Kandungan hara jerami pada saat panen  bergantung pada kesuburan tanah, kualitas dan kuantitas air irigasi, jumlah pupuk yang diberikan, dan musim/iklim.  Wen (1984) menyebutkan bahwa jerami padi di Cina mengandung 0,6% N; 0,09% P; dan 1,08% K, sedangkan Ponnamperuna (1984) rata-rata kandungan hara jerami dari berbagai negara  0,57% N; 0,07% P; 1,5% K; dan 3,0 Si. Di Indonesia rata-rata kadar hara jerami padi adalah 0,4%N, 0,02% P; 1,4% K; dan 5,6 Si.  Untuk setiap 1 ton gabah (GKG) dari pertanaman padi dihasilkan pula 1,5 ton jerami yang mengandung 9 kg N, 2 kg P, 25 kg K, 2 kg S, 70 kg Si, 6 kg Ca dan 2 kg Mg.

Jerami padi dapat memperbaiki sifat fisik tanah atau disebut sebagai pembenah tanah. Tuherkih et al. (1994) melaporkan bahwa pembenaman jerami padi ke tanaman kedelai dapat memperbaiki kondisi tanah, mengurangi kekerasan tanah dan penetrasi lebih ringan. Sebagai akibat semakin mahal dan langkanya pupuk an-organik (Urea, SP36, KCl, ZA) serta perlunya konservasi  hara tanah melalui pendauran ulang, maka pemanfaatan berbagai jenis pupuk organik pada tanaman perlu dikaji sebagai salah satu alternatif substitusi/pengurangan penggunaan pupuk kimia.

Kesuburan tanah di lahan kita dapat dipertahankan dengan memanfaatkan limbah pertanian yang ada disekitar kita khususnya jerami padi yang merupakan potensi bahan lokal yang dapat diolah menjadi pupuk organik dan kompos. Pada saat panen limbah ini sangat berlimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagaimana diketahui bahwa manfaat pupuk organik adalah Meningkatkan struktur tanah, mengurangi erosi, Menahan pemadatan, meningkatkan Mengatur dan menstabilkan pH,  menyehatkan tanah dan menekan perkembangan penyakit tanaman.

Waktu pengomposan sebaiknya segera dilakukan setelah panen, yaitu sehingga kompos tersebut dapat digunakan pada saat persemaian atau pada saat penyiapan bibit. Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lainnya misalnya rumput-rumputan, sisa-sisa daun ataupun tanaman lainnya. Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut disimpan. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga dipikirkan untuk kemudahan saat aplikasi. Jika petak sawah cukup luas sebaiknya di buat di beberapa tempat yang terpisah.

Peralatan dan bahan yang perlu di persiapkan dalam pengomposan adalah: (1). Sabiit/parang, (2). Cetakan yang dibuat dari bambu. Cetakan ini dibuat seperti pagar yang terdiri dari 4 bagian. Dua bagian berukuran 2x1 m dan 2 bagian yang lain berukuran 1x1 m, (3). Ember atau bak untuk tempat air, (4). Air yang cukup untuk membasahi jerami, (5). Aktivator pengomposan ( Promi), (6). Tali, (7). Plastik penutup. Plastik ini bisa dibuat plastic mulsa atau terpal yang berwarna hitam.

Selanjutnya tahapan dalam pembuatan kompos jerami antara lain:

  1. Siapkan bak dan air, masukkan air kedalam bak atau wadah penampungan air, kemudian larutkan bahan activator promi dengan dosis 1 bungkus per 200 liter air untuk 1 ton jerami atau sesuai dengan volume bahan yang disiapkan,
  2. Siapkan cetakan dari bambu. Pasang cetakan tersebut. Sesuaikan ukuran cetakan dengan jerami dan seresah yang tersedia. Apabila jerami cukup banyak cetakan dapat berukuran 2x1x1m namun bila jerami sedikit cetakan bisa dibuat lebih kecil dari ukuran tersebut,
  3. Limbah jerami tersebut dimasukkan kedalam cetakan dan dapat ditambah dengan kotoran ternak atau limbah lainnya. Limbah ditumpuk setinggi 15-20 cm kemudian siramkan activator yang telah disiapkan merata dipermukaan jerami, selanjutnya diinjak-injak hingga padat. Ulangi langkah-langkah tersebut hingga penuh atau seluruh jerami/seresah telah dimasukkan kedalam cetakan. Setelah cetakan penuh, buka tali pengikatnya dan lepaskan cetakan,
  4. Tutup tumpukan jerami tersebut dengan plastic atau terpal yang telah disiapkan. Ikat dengan plastik agar tidak mudah lepas, kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat agar plastic tidak terbuka karena angin. Lakukan pengamatan suhu, penyusutan volume dan perubahan warna tumpukan jerami. Fermentasi/inkubasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih 1 bulan.

Berikutnya adalah melakukan pengamatan selama fermentasi. Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna. Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan suhu cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 0C. pada saat suhu meningkat, mikroba akan giat melakukan penguraian/dekomposisi jerami. Akibat penguraian jerami, volume tumpukan jerami akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 50% dari volume semula. Sejalan dengan itu warna jerami juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman.

Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya peruabahan fisik jerami. Perubahan itu anatara lain: (a). Jerami berwarna coklat kehitam-hitaman, (b). Lunak dan mudah dihancurkan, (c). Suhu tumpukan mendekati suhu awal pengomposan, (d). Tidak berbau menyengat, (e). Volume menyusut hingga setengahnya. Kiranya dapat bermanfaat dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah pertanian serta stop untuk membakar jerami. (Rely)