Padi sawah merupakan konsumen pupuk terbesar di Indonesia. Efisiensi pemupukan tidak hanya berperan penting dalam meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga terkait dengan keberlanjutan sistem produksi, kelestarian lingkungan, dan  penghematan sumberdaya energi. Kebutuhan dan efisiensi pemupukan ditentukan oleh dua faktor yang saling berkaitan yaitu:

(a) ketersediaan hara dalam tanah, dan (b) kebutuhan hara tanaman. Oleh sebab itu, rekomendasi pemupukan harus bersifat spesifik lokasi. Badan Litbang Pertanian dalam hal ini Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) menghasilkan teknologi yang dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah pada lahan sawah yang disebut PUTS atau Perangkat Uji Tanah Sawah

Secara umum PUTS dapat digunakan untuk menilai status kesuburan tanah sawah secara cepat yang dapat dikerjakan oleh penyuluh lapangan atau petani secara langsung di lapangan. Hasil analisis P dan K tanah dengan PUTS ini selanjutnya digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi pupuk P dan K spesifik lokasi untuk tanaman padi sawah. Jumlah pupuk yang diberikan untuk masing-masing kelas status hara tanah berbeda sesuai kebutuhan tanaman, olehnya itu pemberian rekomendasi pupuk N, P, dan K untuk padi sawah dapat lebih tepat dan efisien sehingga menghemat pemakaian pupuk. Sedang dari sisi lingkungan, pemakaian pupuk yang tepat dan efisien dapat menekan pencemaran lingkungan dari badan air (nitrat) dan dalam tanah (logam berat dari pupuk).

PUTS dapat mengukur hara N, P, dan K tanah secara semikuantitatif dengan metode kolorimetri (pewarnaan) dengan mencampur sampel tanah dengan pereaksi dan membandingkan dengan bagan warna untuk membaca status hara pada tanah. Pengambilan sampel tanah dilakuakn pada kondisi lahan yang sama (homogen) baik keadaan topografi, tekstur, warna tanah, kondisi tanaman, penggunaan tanah. Menentukan tempat pengambilan contoh tanah individu, dilakukan dengan dua cara yaitu (1) cara sistematik diagonal, zigzag dan (2) cara acak, dimana Permukaan tanah dibersihkan dari rumput, batu-batuan atau kerikil, sisa tanaman.(sumber: Badan Litbang)(Niikus)

Caisin atau sawi merupakan salah satu jenis sayuran daun yang disukai oleh konsumen Indonesia karena memiliki kandungan pro vitamin A dan asam askorbat yang tinggi. Caisin (Brassica sinensis L.) termasuk kedalam famili Brassicaceae. merupakan tanaman sayuran dengan iklim sub-tropis, namun mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Caisim pada umumnya banyak ditanam dataran rendah, namun dapat pula didataran tinggi. Caisim tergolong tanaman yang toleran terhadap suhu tinggi (panas).

Saat ini, kebutuhan akan caisim semakin lama semakin meningkat seiring dengan peningkatan populasi manusia dan manfaat mengkonsumsi bagi kesehatan. Rukmana (1994) menyatakan caisim mempunyai nilai ekonomi tinggi setelah kubis crop, kubis bunga dan brokoli. Tanaman Caisin/sawi terdiri dari dua jenis yaitu sawi putih dan sawi hijau. Karena pemeliharaannya mudah, tanaman caisin atau sawi banyak di tanam di pekarangan.

Tanaman ini mengandung berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan yang terdapat pada caisim adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C. Menurut Margiyanto (2008) manfaat caisim atau sawi bakso sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk, penyembuh sakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar pencernaan.

Pada dasarnya tanaman caisin dapat tumbuh dan beradaptasi pada hampir semua jenis tanah, baik pada tanah yang mineral yang bertekstur ringan/sarang sampai padah tanah bertekstur liat berat dan juga pada tanah organik seperti tanah gambut. Kemasaman (pH) tanah yang optimal bagi pertanaman caisin adalah antara 6-6,5. Sedangkan temperatur yang optimum bagi pertumbuhan caisin adalah 12-200C.

Varietas yang dianjurkan

Beberapa varietas atau kultivar caisin atau sawi yang dianjurkan ditanam di dataran rendah atau tinggi adalah LV.145 dan Tosakan, dan kebutuhan benih per hektar sebesar 450-600 g.

Persemaian/Pembibitan

Sebelum benih disebar, direndam dengan larutan hangat Previcur N dengan konsentrasi 0,1 % selama ± 2 jam. Selama perendaman, benih yang mengapung dipisahkan dan dibuang. Benih yang tenggelam yang digunakan, di pisahkan dan di kering anginkan. Kemudian benih disebar secara merata pada bedengan persemaian, dengan media sebai setebal ± 7 cm dan disiram. Bedengan persemaian tersebut sebaiknya diberi nauangan.

Media semai dibuat dari pupuk kandang dan tanah yang telah dihaluskan dengan perbandingan 1:1. Benih yang telah disebar ditutup dengan media semai, kemudian ditutup dengan daun pisang atau karung goni selama 2-3 hari. Bibit caisin berumur 7-8 hari setelah semai dipindahkan kedalam bumbunan dan bibit siap ditanam di kebun pada saat berumur 2-3 minggu setelah semai. Cara lain dapat dilakukan dengan cara menyebar benih dilarikan tanam diatas bedengan. Apabila tanaman terlalurapat maka dilakukan penjarangan.

Persiapan Lahan

Pengolahan tanah dilakukan 3-4 minggu sebelum tanam. Tanah dicangkul sedalam 30 cm, dibersikan dari gulma dan tanahnya diratakan. Bila pH rendah, digunakan kapur Dolomit sebanyak 1-1,5 ton/ha dan diaplikasikan 3 minggu sebelum tanam dengan cara di sebar di permukaan tanah dan diaduk rata. Bedengan yang digunakan sebaiknya berukuran lebar 100-120 cm dan tinggi 30 cm. jarak baris dalam bedengan 15 cm dan jarak tanam dalam bedengan 10-15 cm.

Pemupukan

Pupuk dasar berupa pupuk dasar sebanyak 10 ton/ha diberikan merata diatas bedengan dan diaduk merata dengan tanah. Hal tersebut dilakukan ± 3 hari sebelum tanam. Sedangkan pemupukan susulan menggunakan pupuk urea 130 kg/ha yang diberikan setelah penyiangan atau ± minggu setelah tanam.

Penanaman

Bibit yang telah berumur 12 hari setelah semai diangku kelapangan. Selanjutnya bibit ditanam dalam lubang tanam yang telah disediakan.

Pemeliharaan

Penyiangan gulma dilakukan pada umur ± 2 minggu setelah tanam. Kemudian dilakukan penyiangan dan pendangiran susulan setiap 2 minggu sekali, terutama pada musim hujan. Apabilah penanaman dilakukan dengan cara menyebarkan benih langsung dilapangan, dilakukan penjarangan tanaman 10 hari setelah tanam atau bersamaan dengan waktu penyiangan gulma. Penyiraman tanaman perlu dilakukan apabila ditanam pada musim kemarau atau dilahan yang sulit air. Penyiraman dilakukan sejak awal penanaman sampai waktu panen.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Untuk mencegah timbulnya hama dan penyakit, perlu diperhatikan sanitasi lahan, drainase yang baik dan apbila diperlukan tanaman dapat disemprot dengan menggunakan pestisida. OPT utama yang menyerang tanaman caisin adalh ulat daun kubis (Plutella xylostella). Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan Diadegma semiclausum sebagai parasitoid hama Plutella xylostella, penggunaan pestisida nabati, biopestisida,dan juga pestisida kimia. Pengendalian dengan pestisida haru dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis,dosis,volume semprot,cara aplikasi,interval maupun waktu aplikasinya.

Panen dan Pascapanen

Panen dapat dilakukan setelah tanaman berumur 45-50 hari dengan cara mencabut atau memotong pangkal batangnya. Produksi optimal tiap hektar dapat mencapai 1-2 ton. Pemanenan yang terlambat dilakukan menyebabkan tanaman cepat berbunga. Tanaman yang baru dipanen ditempatkan di tempat yang teduh,dan dijaga agar tidak cepat layu dengan cara diperciki air. Kemudian dilakukan sortasi untuk memisahkan bagian yang tua,busuk atau sakit. Penyimpanan bisa menggunakan wadah berupa keranjang bambu, wadah plastik atau karton yang berlubang-lubang untuk menjaga sirkulasi udara.

Semoga Bermanfaat

Penyusun Religius Heryanto (Penyuluh BPTP Sulbar)

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

 

Tanaman cabai  merupakan salah satu komoditas penting yang dikenal sebagai penyedap dan pelengkap menu masakan khas Indonesia. Permintaan akan cabai merah semakin meningkat sejalan dengan semakin beragamnya jenis dan menu masakan yang menggunakan cabai. Cabai   pada dasawarsanya terakhir ini merupakan komoditas  yang selalu mengalami fluktuasi harga yang tajam, namun tidak menurunkan minat petani untuk membudidayakan. Melihat tingginya minat petani dalam budidaya cabai maka perlu satu terobosan sistim budidaya yang memudahkan petani khususnya bagi yang memiliki lahan pekarangan sempit. Sala satunya adalah budidaya cabai dalam pot/polibag. Menanam cabai dalam pot bagaikan mendekatkan pasar ke dapur.

Pembuatan Media Tanam

Media tanam dibuat dengan campuran tanah, sekam dan pupuk kandang matang atau organik dengan perbandingan 1:1:1. Bahan baku yang sudah disiapkan, dicampur dan diaduk sampai rata.

Persiapan Benih

Benih cabai yang akan disemai sebaiknya adalah benih yang sudah diseleksi. Cara seleksi benih cabai yang baik, yaitu :

  • Rendam benih cabai benih dalam wadah berisi air
  • Benih cabai yang mengapung adalah benih cabai yang tidak bagus, sedangkan benih yang tenggelam adalah benih yang bagus.
  • Buang benih cabai yang tidak bagus.
  • Celupkan benih cabai yang bagus dalam larutan PGPR selama 2 hingga 8 jam,kemudian dikering anginkan.
  • Tumbuh sampai mulai berkecambah

Persemaian

Untuk membuat persemaian dapat digunakan wadah berupa nampan/tray. Wadah kemudiaan diisi dengan media tanam yang sudah disiapkan. Ratakan media dalam wadah kemudian disiram dengan air. Buat larikan pada wadah untuk lubang tanam. Isi larikan dengan benih cabai yang sudah berkecambah. Letakkan wadah pesemaian di bawah naungan agar tidak terkena sinar matahari langsung, dan air hujan. Tunggu sampai benih muncul daun sebanyak 3 lembar (-+ selama 2 minggu).

Pemindahan ke polibag

Tanaman cabai yang sudah memiliki 3 daun dapat dipindahkan kedalam pot/polybag. Pot yang diguanakan dapat berupa pot plastik, ember, atau panci bekas,bekas pipa paralon, sabut kelapa atau polybag. Isi wadah yang akan digunakan sebagai tempat menaman dengan media tanam. Beri lubang pada bagian tengah pindahkan tanaman cabai ke dalam lubang yang telah disiapkan. Tambahkan tanah untuk menutup lubang kemudian siram dengan air

Pemeliharaan

  • Penyiraman, siram tanaman cabai sesuai kondisi kelembaban tanah maksudnya jika tanah terlihat lembab maka tidak perlu penyiraman dan sebaliknya jika terlihat kering maka perlu dilakukan penyiraman
  • Penyiangan/pengendalian gulma
  • Penyulaman
  • Pengendalian organisme pengganggu tanaman
  • Pemupukan susulan (dapat di tambah pupuk organik)
  • Pemasangan ajir
  • Pewiwilan/pembuangan tunas atau di bawah cabang pertama, sebaiknya dilakukan pada cuaca cerah.

Panen

Untuk cabai merah, panen dapat dilakukan pada 70-75 HST (Hari Setelah Tanam) dengan ciri buah sebagian warna merah. Untuk cabai rawit panen dapat dilakukan pada umur 70-90 HST (nonhibrida),atau dengan tingkat kemasakan telah mencapai 80%. Cara panen dengan dipetik dan menyertakan tangkai buahnya. Frekuensi panen untuk cabai merah 3-4 hari sekali sampai tanaman berumur 6-7 bulan. Frekuensi panen untuk cabai rawit adalah 3-7 hari sekali.

 

Hama dan Penyakit

Hama

  1. Trips cabai (Thrips parvispinus)

Gejalah : daun akan berwarna coklat,menjadi keriting dan keriput, pucuk serta tunas menggulung ke atas.

Pengendalian : mengurangi gulam, pengairan yang cukup, penggunaan perangkap lekat yang berwarna biru, putih, atau kuning.

  1. Ulat Grayak ( Spodoptera litura )

Gejalah : Daun tinggal epidermis dan tulang daun, Timbul lubang pada buah dan dapat habis dimakan

Pengendalian : sanitasi dan mengurangi gulma, pengumpulan kelompok telur/larva, penggunaan perangkap lampu.

  1. Lalat Buah ( Bactrocera spp )

Gejalah : terdapat lubang coklat kehitaman pada buah, buah menjadi busuk dan biasanya gugur

Pengendalian : sanitasi dan mengurangi gulma, penggunaan perangkap beraktraktan yang terbuat dari plastik/botol air mineral yang sudah di pasangi atraktan, pemungutan buah terserang dan memusnakan dengan cara dibakar.

  1. Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Gejalah : bercak nekrotik pada daun, dapat bertindak sebagai vektor virus, terutama virus kuning

Pengendalian : sanitasi lingkungan dengan mengurangi gulma, penggunaan kelambu dipertanaman, pemasangan perangkap lekat kuning, aplikasi pestisida nabati.

Penyakit

  1. Antraknosa/Patek ( Colletotrichum gloeosporioides, C.capsici)

Gejalah : pada buah terdapat bercak kecil, berair, seperti luka karena terbakar sinar matahari, berwarna antara merah tua sampai coklat menyala hingga warna hitam, menyebabkan nekrosis dan bercak pada daun, cabang atau ranting

Pengendalian : perbaikan drainase, rumput-rumputan dan buah cabai yang terserang penyakit busuk buah, penggunaan agens antagonis Trichoderma sp. Dan Gliocladium sp.

  1. Bercak Daun

Gejalah : bercak berwarna kecoklatan berbentuk bulatan kecil, bercak dapat melebar dan berwarna abu abu tua, denga tepi bercak berwarna coklat tua, batang, daun,tangkai, bunga, tangkai buah jga dapat di terserang.

Pengendalian : Perbaikan drainase, perendaman benih selama 6-12 jam dalam larutan agens hayati Pf, eradikasi tanaman/pembenahan sisa/bagian tanaman sakit.

  1. Layu Fusarium ( Fusarium oxymporum f.sp capsici )

Gejalah : daun menguning dan menjadi layu pada bagian atas tanaman

Pengendalian : Aplikasi Trichoderma sp. Yang dicampur dengan pupuk organik sebagai pupuk dasar, perbaikan dan pengaturan perairan,sanitasi lahan dengan memusnakan tanaman yang terserang.

PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)

Pembuatan starter PGPR dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Akar bambu dan tanahnya diambil dari lapang, kemudian di rendam dengan air matang/steril selama 24 jam
  2. Air rendaman dicampur dengan larutan terasi (10 gram terasi/1 liter air steril), siap dijadikan starter cair. Sedangkan untuk starter pasta, ditambah bekatul secukupnya sampai menjadi pasta.

Untuk perbanyakan PGPR :

Starter diambil 1 cc + 1 liter air + 10 gram terasi, lalu di fermentasi selama 4 hari. Untuk aplikasi di lapang 5 cc PGPR di tambah dengan 10 liter air. PGPR dapat diaplikasikan untuk perlakuan benih (pencelupan benih sebelum tanam) atau disiram ke perakaran tanaman yang dibudayakan.

Sumber Bacaan: Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat (2015)

Penulis. Religius Heryanto (Penyuluh Pertanian BPTP Sulbar)

Contact Info

  • Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it., This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • Map (Peta Lokasi)
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…