JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mekongga Idola Petani Mamuju

Mamuju, 14/02/2018- Mekongga merupakan persilangan antara padi jenis Galur A2970 yang berasal dari Arkansas Amerika Serikat, dengan varietas yang sangat populer di Indonesia yaitu IR 64. Umur tanam Mekongga cukup singkat yaitu hanya 116 hingga 125 hari. Secara fisik, bentuk tanamannya tegak dengan tinggi tanaman berkisar antara 91 sampai 106 cm. Anakan produktif 13-16 batang. Bentuk gabahnya sendiri ramping panjang dengan tekstur rasa beras yang pulen karena kadar amilosanya mencapai 23 persen. Bobot 1000 butir gabah Mekongga yaitu 28 gram sehingga kurang lebih potensi hasil varietas ini mencapai 8,4 ton per hektar dengan budidaya yang tepat tentunya( MAJALAH PADI 2009).

Gabah padi ini hampir sama dengan Inpari 6, Inpari 10 dan Inpari 18 (Nurman Ihsan, SP), dan yang menjadi daya tarik Mekongga yaitu karena tahan terhadap serangan hama serta penyakit, seperti serangan wereng coklat biotipe dan penyakit bakteri daun serta biji bulir padi lebih banyak, sehingga memungkinkan menjadi idola bagi petani Mamuju karena mampu menghasilkan produktivitas 6,6 ton/ha pada areal seluas 3 ha dari 20 ha luas hamparan.(yen)

Deskripsi Padi Varietas Mekongga

Nomor seleksi

S4663-5d-Kn-5-3-3

Asal seleksi

A2790/2*IR64

Umur tanaman

116-125 hari

Bentuk tanaman

Sedang

Tinggi tanaman

91-106 cm

Daun bendera

Tegak

Bentuk gabah

Ramping panjang

Warna gabah

Kuning bersih

Kerontokan

Sedang

Tekstur nasi

Pulen

Kadar amilosa

23%

Indeks glikemik

88

Berat 1000 butir

27-28 gram

Potensi hasil

6 ton/ha GKG

Ketahanan terhadap Hama

Agak peka terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3

Ketahanan terhadap Penyakit

Agak peka terhadap hawar daun bakteri strain IV

Anjuran tanam

Baik ditanam di sawah dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl

Pemulia

Z. A. Simanullang, Idris Hadade, Aan A. Daradjat, dan Sahardi.

Tahun dilepas

2004

SK Menteri Pertanian

374/kpts/LB.420/6/2004

(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi)

 

Teknologi Pembuatan Kompos Jerami Padi

 

Permasalahan pupuk hampir selalu muncul setiap tahun di negeri ini. Permasalahan tersebut antara lain adalah kelangkaan pupuk dimusim tanam dan harga pupuk yang cenderung meningkat. Tanpa disadari bahwa penggunaan pupuk kimia secara intensif dapat menyebabkan kesuburan tanah dan bahan organik tanah semakin menurun.

 

          Tanaman Padi adalah merupakan salah satu komoditas andalan nasional yang mempunyai peran penting dalam perekonomian di Indonesia juga merupakan komoditas tanaman andalan di Sulawesi Barat. Pada umumnya pada saat panen padi diangkat ketempat lain sedangkan jerami sisa-sisa penen umumnya dibakar. Menurut Tirto utomo et al (2001) pemanfaatan jerami padi merupakan salah satu alternatif  untuk substitusi penggunaan pupuk kimia.  Kandungan hara jerami pada saat panen  bergantung pada kesuburan tanah, kualitas dan kuantitas air irigasi, jumlah pupuk yang diberikan, dan musim/iklim.  Wen (1984) menyebutkan bahwa jerami padi di Cina mengandung 0,6% N; 0,09% P; dan 1,08% K, sedangkan Ponnamperuna (1984) rata-rata kandungan hara jerami dari berbagai negara  0,57% N; 0,07% P; 1,5% K; dan 3,0 Si. Di Indonesia rata-rata kadar hara jerami padi adalah 0,4%N, 0,02% P; 1,4% K; dan 5,6 Si.  Untuk setiap 1 ton gabah (GKG) dari pertanaman padi dihasilkan pula 1,5 ton jerami yang mengandung 9 kg N, 2 kg P, 25 kg K, 2 kg S, 70 kg Si, 6 kg Ca dan 2 kg Mg.

Jerami padi dapat memperbaiki sifat fisik tanah atau disebut sebagai pembenah tanah. Tuherkih et al. (1994) melaporkan bahwa pembenaman jerami padi ke tanaman kedelai dapat memperbaiki kondisi tanah, mengurangi kekerasan tanah dan penetrasi lebih ringan. Sebagai akibat semakin mahal dan langkanya pupuk an-organik (Urea, SP36, KCl, ZA) serta perlunya konservasi  hara tanah melalui pendauran ulang, maka pemanfaatan berbagai jenis pupuk organik pada tanaman perlu dikaji sebagai salah satu alternatif substitusi/pengurangan penggunaan pupuk kimia.

Kesuburan tanah di lahan kita dapat dipertahankan dengan memanfaatkan limbah pertanian yang ada disekitar kita khususnya jerami padi yang merupakan potensi bahan lokal yang dapat diolah menjadi pupuk organik dan kompos. Pada saat panen limbah ini sangat berlimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagaimana diketahui bahwa manfaat pupuk organik adalah Meningkatkan struktur tanah, mengurangi erosi, Menahan pemadatan, meningkatkan Mengatur dan menstabilkan pH,  menyehatkan tanah dan menekan perkembangan penyakit tanaman.

Waktu pengomposan sebaiknya segera dilakukan setelah panen, yaitu sehingga kompos tersebut dapat digunakan pada saat persemaian atau pada saat penyiapan bibit. Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lainnya misalnya rumput-rumputan, sisa-sisa daun ataupun tanaman lainnya. Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut disimpan. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga dipikirkan untuk kemudahan saat aplikasi. Jika petak sawah cukup luas sebaiknya di buat di beberapa tempat yang terpisah.

Peralatan dan bahan yang perlu di persiapkan dalam pengomposan adalah: (1). Sabiit/parang, (2). Cetakan yang dibuat dari bambu. Cetakan ini dibuat seperti pagar yang terdiri dari 4 bagian. Dua bagian berukuran 2x1 m dan 2 bagian yang lain berukuran 1x1 m, (3). Ember atau bak untuk tempat air, (4). Air yang cukup untuk membasahi jerami, (5). Aktivator pengomposan ( Promi), (6). Tali, (7). Plastik penutup. Plastik ini bisa dibuat plastic mulsa atau terpal yang berwarna hitam.

Selanjutnya tahapan dalam pembuatan kompos jerami antara lain:

  1. Siapkan bak dan air, masukkan air kedalam bak atau wadah penampungan air, kemudian larutkan bahan activator promi dengan dosis 1 bungkus per 200 liter air untuk 1 ton jerami atau sesuai dengan volume bahan yang disiapkan,
  2. Siapkan cetakan dari bambu. Pasang cetakan tersebut. Sesuaikan ukuran cetakan dengan jerami dan seresah yang tersedia. Apabila jerami cukup banyak cetakan dapat berukuran 2x1x1m namun bila jerami sedikit cetakan bisa dibuat lebih kecil dari ukuran tersebut,
  3. Limbah jerami tersebut dimasukkan kedalam cetakan dan dapat ditambah dengan kotoran ternak atau limbah lainnya. Limbah ditumpuk setinggi 15-20 cm kemudian siramkan activator yang telah disiapkan merata dipermukaan jerami, selanjutnya diinjak-injak hingga padat. Ulangi langkah-langkah tersebut hingga penuh atau seluruh jerami/seresah telah dimasukkan kedalam cetakan. Setelah cetakan penuh, buka tali pengikatnya dan lepaskan cetakan,
  4. Tutup tumpukan jerami tersebut dengan plastic atau terpal yang telah disiapkan. Ikat dengan plastik agar tidak mudah lepas, kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat agar plastic tidak terbuka karena angin. Lakukan pengamatan suhu, penyusutan volume dan perubahan warna tumpukan jerami. Fermentasi/inkubasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih 1 bulan.

Berikutnya adalah melakukan pengamatan selama fermentasi. Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna. Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan suhu cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 0C. pada saat suhu meningkat, mikroba akan giat melakukan penguraian/dekomposisi jerami. Akibat penguraian jerami, volume tumpukan jerami akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 50% dari volume semula. Sejalan dengan itu warna jerami juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman.

Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya peruabahan fisik jerami. Perubahan itu anatara lain: (a). Jerami berwarna coklat kehitam-hitaman, (b). Lunak dan mudah dihancurkan, (c). Suhu tumpukan mendekati suhu awal pengomposan, (d). Tidak berbau menyengat, (e). Volume menyusut hingga setengahnya. Kiranya dapat bermanfaat dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah pertanian serta stop untuk membakar jerami. (Rely)

Inovasi Teknologi Padi Menghadapi Perubahan Iklim

        Penyediaan pangan bagi penduduk Indonesia yang semakin bertambah memerlukan upaya nyata peningkatan produksi padi.  Kebutuhan beras terus meningkat setiap tahun seiring dengan peningkatan penduduk. Namun persoalannya, budidaya padi dewasa ini dihadapkan pada perubahan iklim global yang jika tidak stabilitas perberasan nasional akan terganggu. Perubahan iklim global telah membawa dampak nyata pada sektor pertanian dalam bentuk pergeseran musim. Dampak dari perubahan Iklim adalah meningkatnya kejadian iklim ekstrim, berubahnya pola hujan, bergesernya awal musim, banjir, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut. Perubahan itu otomatis merubah pola tanam padi di Indonesia dan memicu perubahan pola hidup OPT (organisme penganggu tanaman) yang dapat menyebabkan ledakan hama penyakit tanaman padi.

Fenomena ini berdampak langsung pada meningkatnya tekanan abiotik dan biotik bagi lahan pertanian. Tekanan abiotik seperti meningkatnya areal lahan marginal (kekeringan, kemasaman, kahat pupuk utamanya nitrogen), sedangkan tekanan biotik seperti ledakan hama dan penyakit karena iklim yang tidak menentu atau munculnya hama atau penyakit yang sebelumnya bukan utama menjadi utama dan sebaliknya yang disebabkan oleh perubahan iklim baik makro maupun mikro (Muhammad A, dkk, 2013).

Guna mengantisipasi dan menghadapi perubahan iklim, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan teknologi padi dalam mengantisipasi perubahan iklim. Salah satu upaya inovasi teknologi yang diandalkan dalam peningkatan produktivitas padi adalah varietas unggul baru berdaya hasil tinggi.  Varietas Unggul baru merupakan komponen teknologi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan produksi padi.

Inovasi teknologi padi yang telah disiapkan adalah varietas padi toleran terhadap cekaman abiotik seperti rendaman (banjir), kekeringan, dan salinitas. Varietas padi yang berumur genjah dan tahan terhadap hama dan penyakit juga tersedia di samping inovasi teknologi budidaya dan pengendalian hama dan penyakit terpadu. Penamaan varietas unggul baru (VUB) padi saat ini tidak lagi mempergunakan nama sungai, tetapi mengikuti penamaan padi hibrida yang telah memakai Hipa (Hibrida padi). Penamaan VUB untuk ekosistem sawah irigasi memakai nama Inpari (Inbrida Padi Irigasi), ekosistem rawa memakai nama Inpara (Inbrida Padi Rawa), dan lahan kering memakai nama Inpago (Inbrida Padi Gogo).

Balitbangtan telah melepas sejumlah varietas unggul padi yang toleran terhadap dampak perubahan iklim. Karakteristik beberapa varietas unggul tersebut adalah: umur genjah, tahan dan adaptif terhadap kekeringan dan dapat bertahan pada dua kondisi iklim yang berbeda yaitu lahan kering dan lahan genangan (Amfibi).  Varietas-varietas tersebut adalah: Limboto, Batutegi, Towuti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Inpari 10 Laeya, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7 Inpago 8, dan Inpago 9  (Balitbangtan, 2015).

Varietas unggul amfibi tersebut dinilai mampu bertahan pada kondisi kering sebagaimana halnya pagi gogo (ladang) dengan potensial air tanah (pF) sampai 2,90 dan juga mampu bertahan dan berproduksi baik pada kondisi tergenang sebagaimana padi sawah, terutama pada musim kemarau atau kondisi iklim yang kurang menentu seperti varietas  Situ Bagendit dan Inpago yang merupakan varietas pagi gogo/lahan kering, namun mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi tergenang pada lahan sawah. Sebaliknya, Inpari 10 Laeya yang merupakan padi sawah irigasi, mampu beradaptasi baik pada kondisi kekeringan dilahan sawah dan juga beradaptasi baik pada lahan tadah hujan dan gogo, (Balitbangtan, 2015).

Sedangkan varietas toleran rendaman meliputi Inpari 29, Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpara 4, Inpara 5, dan toleran salinitas adalah varietas Inpari 34 dan Inpari 35.Untuk padi yang relatif toleran terhadap kekeringan pada padi sawah irigasi varietas Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20 dengan potensi hasil 8,0-9,5 t/ha. Keempat varietas unggul ini tahan terhadap hama wereng batang coklat (WBC) dan penyakit hawar daun bakteri (HDB) (Balitbangtan, 2015).

Berbeda dengan varietas Inpari lainnya, Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan toleran terhadap salinitas pada fase bibit. Keunggulan lainnya dari kedua varietas ini adalah berdaya hasil tinggi, mencapai 9,5 dan 9,6 t/ha, tahan penyakit blas yang kini juga telah mulai merusak pertanaman padi sawah di beberapa daerah, dan agak tahan terhadap hama WBC. Padi rawa pasang surut varietas Inpara 5 toleran salinitas, potensi hasil 7,2 t/ha.

Selain itu balitbangtan juga menghasilkan padi varietas Inpari 9 Elo yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro dengan potensi hasil 9,3 t/ha. Varietas Inpari 15 Parahiyangan tahan penyakit blas ras 033 dengan potensi hasil 7,5 t/ha. Padi unggul varietas Inpari 28 Kerinci tahan terhadap penyakit hawar daun patotipe III dengan potensi hasil 9,5 t/ha. Selain itu konsep budidaya padi hemat air merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan sistem pengairan basah dan kering. Pengairan sistem basah kering atau pengairan berselang merupakan suatu metode pengairan dengan prinsip utama memberikan air pada tanaman sesuai dengan tingkat kebutuhan tanaman. Model sistem pengairan basah dan kering merupakan suatu model pengairan yang dapat menghemat penggunaan air sampai 30% dengan tidak menurunkan produksi tanaman. Ini berarti bahwa luas areal yang mendapatkan tambahan pengairan bisa meningkat (Balitbangtan, 2012).

Metode pengairan basah dan kering juga dikenal dengan sistem pengairan berselang, dimana dalam kondisi tertentu tanaman dalam kondisi macak-macak dan pada periode tertentu dalam kondisi tergenang. Pengairan berselang atau disebut juga intermitten adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. Pengairan berselang memberi kesempatan kepada akar untuk berkembang lebih baik, pengairan berselang mengurangi kerebahan, mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat, mengurangi kerebahan, mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah), menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen, memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah), memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus (Puslitbangtan, 2011).

Cara pengairan berselang: (1) Tanam bibit dalam kondisi sawah macakmacak; (2) Secara berangsur tanah diairi 2-5 cm sampai tanaman berumur 10 hari; (3) Biarkan sawah mengering sendiri, tanpa diairi (biasanya 5-6 hari); (4) Setelah permukaan tanah retak selama 1 hari, sawah kembali diairi setinggi 5 cm; (5) Biarkan sawah mengering sendiri, tanpa diairi (5-6 hari) lalu diairi setinggi 5 cm. Pengairan berselang memerlukan pengaturan kapan lahan digenangi dan dikeringkan.  Ulangi hal di atas sampai tanaman masuk stadia pembungaan.  Sejak fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan terus diairi setinggi 5 cm, kemudian lahan dikeringkan.  Sepuluh hari sebelum panen lahan dikeringkan. (Rely)