JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Ganyong (Canna edulis Kerr) merupakan tanaman herbal yang berasal dari Amerika Selatan. Di Sulawesi Barat “Mamuju dan Mamasa” diberi nama Bombang. Tanaman ini bisa ditanam di lahan darat yang kurang air, baik di dataran rendah maupun tinggi

 

Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar bagi keberlangsungan hidup manusia. Kebutuhan terhadap pangan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka diperlukan peningkatan ketersediaan pangan berkelanjutan yang mampu mencukupi kebutuhan konsumsi penduduk di masa yang akan datang.

Namun persentase tingkat pertumbuhan produksi pangan yang berbasis karbohidrat sangat kecil, fluktuatif dan cenderung menurun. Jika laju pertumbuhan penduduk tidak diturunkan sementara laju produksi pangan sangat lamban, maka dalam beberapa tahun yang akan datang Indonesia berpotensi mengalami rawan pangan, (Anonim, 2014).

Salah satu penyebab kerawanan pangan adalah ketergantungan masyarakat pada salah satu pangan pokok saja, yaitu beras. Sekitar 95% penduduk Indonesia menggantungkan dirinya kepada beras sebagai makanan pokok (Nurmala, 2007).

Sulawesi Barat memiliki potensi umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat yang dapat dijadikan sebagai pengganti beras, salah satunya adalah tanaman ganyong yang sudah lama dilupakan oleh masyarakat. Saat melakukan ekspolarasi Pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) tanaman ganyong masih banyak ditemukan dihalaman-halaman rumah penduduk namun hanya dijadikan sebagai tanaman hias ataupun dikebun sebagai tumbuhan liar.

Di Sulawesi Barat Tanaman Ganyong dikenal dua varietas ganyong, yaitu ganyong merah dan ganyong putih. Ganyong merah ditandai dengan warna batang, daun dan pelepahnya yang berwarna merah atau ungu, sedang yang warna batang, daun dan pelepahnya hijau dan sisik umbinya kecoklatan disebut dengan ganyong putih.

Ganyong merupakan tanaman umbi-umbian yang berpotensi untuk menggantikan peran beras dan tepung terigu dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok. Namun sampai saat ini, potensi tanaman ganyong belum dikembangkan dengan baik serta belum diusahakan secara serius dan intensif, karena kurang populer dibandingkan dengan tanaman berumbi lainnya. Selain itu kebanyakan petani menganggap ganyong kurang memiliki nilai ekonomis sehingga sedikit petani yang mau membudidayakannya. (Rukmana, 2000).

Umbi ganyong dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi. Kandungan karbohidrat ganyong cukup tinggi, setara dengan umbi-umbi yang lain, namun lebih rendah daripada singkong, tetapi karbohidrat umbi dan tepung ganyong lebih tinggi bila dibandingkan dengan kentang, begitu juga dengan kandungan mineral kalsium, phosphor dan besi. Dengan demikian ganyong sangat tepat bila digunakan untuk keragaman makanan sebagai pengganti beras. Berikut adalah kandungan dari umbu ganyong :

Setiap 100 gram umbi yang dapat dimakan, berisi kira-kira : air 75 g, protein 1 g, lemak 0,1 g, karbohidrat 22,6 g, Ca 21 miligram (mg), P 70 mg, Fe 20 mg, vitamin B 0,1 mg, vitamin C 10 mg. Karbohidrat terdiri dari lebih 90% tepung dan 10% gula (glukosa dan sukrosa). Tepung yang dihasilkan kuning cerah dengan ukuran butir yang besar (125-145 milimikron x 60 milimikron) tidak beraturan. Tepung ini sangat larut dan mudah dicerna (E. Sukarsa, 2015).

Umbi ganyong dapat dikonsumsi hanya dengan cara direbus hingga matang. Biasanya umbi tanaman ini dimakan sebagai cemilan, atau menggantikan makanan pokok karena cukup mengandung karbohidrat dan mengenyangkan. Manfaat lain dari umbi ganyong adalah untuk diambil tepung patinya, dan dapat dimanfaatkan dalam pembuatan kue, bihun, serta produk makanan bayi. Selain itu beberapa literature mengatakan bahwa tanaman ganyong ini juga bermanfaat sebagai tanaman obat herbal.

Deskripsi tanaman ganyong adalah merupakan tanaman berumbi, tahunan, tegak, tanaman herba yang kuat, tinggi mencapai 3,5 m, umbi bercabang horizontal, mencapai panjang 60 cm dengan diameter 10 cm, dengan segmen berdaging membentuk balon, ditutupi oleh daun tipis, dan akar tebal yang berserat. Tangkai berdaging, timbul dari umbi, biasanya tingginya 1-1,5 m, sering keungu-unguan. Daunnya teratur secara spiral dengan kuncup besar yang terbuka, kadang-kadang petiolanya pendek, daun sempit dari rata menuju elips, tulang daun nyata, bagian bawah agak keunguan. Bunganya berwarna merah kekuningan, buah berbentuk kapsul yang solid seperti telur. Bijinya banyak, bulat, diameter 0,5 cm, licin dan keras, kehitaman sampai coklat.

Teknik Budidaya yaitu dapat  dibiakkan dengan cara vegetatif melalui pemotongan umbi berukuran sedang dengan mata tunas 1-2. Pemotongan umbi lebih disukai untuk menjaga kemurnian genetik klon dibandingkan dengan menggunakan biji. Umbi yang digunakan adalah umbi yang masih muda bukan yang bagian coklat tua. terpisah pada jarak 50 cm, kedalaman 15 cm. Seluruh umbi dapat ditanam. Bila ditanam terlalu dekat, tanaman terlalu berdesakan, mengakibatkan penampilan jelek. Lebih baik menanam ganyong pada musim hujan, bila tidak, harus diairi. Ganyong ditanam pada bedengan yang telah diolah seluruhnya dan dicampur dengan pupuk dan kompos yang cukup.

Pada tanah liat dianjurkan menggunakan jarak tanam 90 x 90 cm, dengan jarak barisan 90 cm begitu juga jarak antara barisannya. Jika yang tersedia adalah lahan yang masih banyak ditumbuhi oleh rerumputan atau alang-alang, maka sebaiknya digunakan jarak tanam yang lebih lebar lagi yaitu 135 cm x 180 cm, sedang untuk tanah liat berat di gunakan jarak tanam 120 cm x 120 cm. Di tanah-tanah pegunungan yang biasanya tanah miring dan sudah dikerjakan menjadi teras-teras, ini sangat menguntungkan, karena selain hasil lahan akan bertambah juga dapat memperkuat teras-teras tersebut. Jarak tanam yang digunakan dalam hal ini adalah 50 cm urut sepanjang tepi teras.

Pemeliharaan tanaman ganyong yang sangat penting adalah sebagai berikut :

(a) Penyiangan;  Kebersihan bedengan atau areal tanaman dari gangguan gulma perlu sekali diperhatikan, terutama pada masa awal pertumbuhannya. Apabila banyak gulma yang tumbuh, tentu saja sejumlah unsur-unsur hara tersebut digunakan oleh gulma, sehingga pertumbuhan ganyong yang masih muda ini merana.

(b) Pembumbunan; Pembumbunann adalah suatu usaha untuk menggemburkan tanah. Tanah yang gembur akan membuat umbi yang terbentuk dapat berkembang dengan leluasa. Pembumbunan dapat dimulai pada saat ganyong berumur 2 - 2,5 bulan.

(c) Penyiraman; Karena pada masa ini bibit yang mulai bertunas banyak sekali memerlukan air, udara dan unsur-unsur hara serta sinar matahari yang cukup untuk menunjang pertumbuhannya terutama untuk memperbanyak akar.

(d) Pemupukan; Karena ganyong menyenangi tanah yang gembur, maka pupuk yang sangat diperlukan adalah pupuk kandang atau kompos. Pupuk ini bila perlu dapat diberikan bersamaan dengan pembumbunan.

(e) Penyakit dan Hama; Secara umum ganyong adalah tanaman keras dengan sedikit penyakit dan hama. Fusarium, Puccinia, dan Rhizoctonia Sp adalah kemungkinan penyakit jamurnya. Kumbang dan belalang dapat memakan daun, dan cacing menyerang umbinya.

Pemanenan Umbi ganyong dapat dilakukan 4-8 bulan setelah tanam, dicabut atau digali. Ciri umbi matang adalah apabila potongan segitiga bagian terluar daun umbi berubah menjadi ungu. Panen setelah 8 bulan dapat memberikan hasil yang lebih tinggi, karena umbi ganyong telah mengembang secara maksimum. Hasil umbi bervariasi dari 23 ton per hektar pada 4 bulan menjadi 45-50 ton per hektar pada 8 bulan, atau 85 ton per hektar setelah setahun. Tepung yang dihasilkan adalah 4-10 ton per hektar.

Penanganan Setelah Panen; Umbi segar yang baru dipanen harus ditangani secara hati-hati. Bila akan dikonsumsi, harus dilakukan segera setelah panen. Bila dibiarkan lebih dari 10 bulan umbi ganyong akan menjadi keras, kurang dapat dikonsumsi , dan tepung yang dihasilkannya sangat rendah. Umbi yang sudah bersih dapat disimpan beberapa minggu pada kondisi sejuk dan kering. Untuk produksi tepung komersial, umbi diproses segera setelah panen. Untuk memperoleh patinya, umbi diparut, ditambahkan air, dan bubur patinya disaring, dipisahkan melalui pengendapan dan selanjutnya dikeringkan (Anonim, 2016).

Mari kita lestarikan Sumber Daya Genetik (SDG) yang ada di sekitar kita demi anak cucu kita.

 

Penulis: Religius Heryanto, S.ST