JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Langsat (Lansium domesticum) merupakan salah satu jenis buah tropis yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Majene, dan memiliki potensi untuk dikembangkan secara terus-menerus.  Berdasarkan data BPS tahun 2016 banyaknya tanaman langsat  yang sudah menghasilkan di Kabupaten Majene adalah 31.200 pohon dengan produksi sebanyak 1.202,5 ton (BPS Kab. Majene, 2016).

Kabupaten Majene sendiri memiliki langsat lokal yaitu Lasse’ Bambang yang merupakan salah satu buah legendaries yang terdapat di Desa Tande, Kecamatan Banggae. Popularitas buah tersebut terekam dalam lagu dengan kutipan “Lasse Bambangna To Tande”.

Menurut Hasnah (54) penduduk asli Desa Tande menceritakan bahwa asal usul nama lasse’ bambang itu sebenarnya berasal dari nama turunan seorang Raja. Lanjut diceritakan bahwa dahulu  kalah di Desa Tande, Kecamatan Baggae, Kabupaten Majenedikenal ada 7 keturunanan dengan warnah darah (Cera’) yang berbeda-beda, diantaranya: 1. Cera’ maputih (Darah Putih); 2. Cera’ Mamea (Darah Merah); 3. Cera’ Magabu’ (Darah Biru); 4. Cera’ Malotong (Darah Hitam); 5. Cera’ Mariri (Darah Kuning); 6. Cera’ Mekkurarra’ (Darah Hijau); 7. Cera’ Majingga (Darah Jingga).

Ambang merupakan anak keturunan dari cera’ maputih yang meninggal saat masih bayi. Ambang memiliki kulit yang putih dan halus. Tidak berapa lama setelah dikuburkan, tumbuhlah 2 pohon langsat dikuburannya. Langsat tersebut rasanya manis, buah besar dan agak lonjong, serta biji yang jarang ditemukan, atau biji biasanya kempes. Dari situlah langsat tersebut berkembang yang akhirnya diberi nama lassekna ambang (langsatnya ambang). Jadi nama lasse’ bambang sebenarnya adalah lasse’ ambang.

Tanaman Lasse Bambang tersebut masih ditemukan di Dusun Purrau, Desa Tande kecamatan Banggae, kabupaten Majene pada posisi S:0349816-0710982 dengan ketinggian 45-123  m dpl.  Tanaman langsat ini sudah mulai punah karena pengaruh faktor alam (kemarau berkepanjangan), sulit dikembangkan dengan biji (karena tidak/jarang mempunyai biji) maupun dengan cangkok atau tempel mata tunas.  Selain itu, juga kalah bersaing dengan komoditas bernilai ekonomis tinggi, seperti kakao. Tanaman langsat di lokasi tersebut sudah tiga tahun tidak berbuah. (Reli)