JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Buah pisang merupakan jenis buah yang paling sering kita temui dimana-mana, baik diperdesaan atau diperkotaan dan boleh dikatakan tanaman yang sangat merakyat, karena bisa tumbuh dihampir disetiap daerah.

Sulawesi Barat termasuk salah satu pusat biodiversity atau keaneka-ragaman sumberdaya genetik di Indonesia. Berbagai jenis tanaman buah-buahan memiliki potensi yang bernilai tinggi apabila dapat dikelola dengan baik. Keberadaan beberapa jenis sumberdaya genetik tersebut menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah, sebagai akibat konversi lahan oleh tindakan manusia dan kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu perlu konservasi Sumber Daya Genetik (SDG) tanaman terutama mencegah kepunahannya di daerah-daerah rawan erosi.

Kabupaten Majene merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Barat dengan topografi wilayah yang kondisinya relatif bervariasi yakni pada posisi selatan merupakan daerah pesisir yang relatif datar,sedangkan pada sisi utara merupakan daerah pegunungan. Jarak kabupaten Majene ke ibukota provinsi Sulawesi Barat (Kota Mamuju) kurang lebih 146 km. Ibukota kabupaten Majene terletak di kecamatan Banggae, antara 2o38’45” – 3o38’15” LS dan antara 118o45’00” – 119o4’45” BT. Sumber Daya Genetik di kabupaten Majene memiliki vegetasi tanaman pangan yang beragam yang telah dikembangkan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun masih banyak yang belum dikelola dan dimanfaatkan, sehingga mengalami ancaman kepunahan.

Upaya untuk menggali potensi dan melestarikan plasma nutfah tanaman pangan sangat penting dalam penyediaan sumber daya genetik tanaman, pemuliaan tanaman, konservasi lingkungan dan untuk keragaman jenis tanaman dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan menghadapi perubahan iklim yang sewaktu-waktu dapat mengancam kelestarian hidup jenis tanaman budidaya.

Salah satunya adalah pisang loka pere’ yang merupakan salah satu sumber daya genetik tanaman yang ada di Kabupaten Majene. Namun keberadaan pisang loka pere’ saat ini sangat sulit ditemukan Karena petani tidak begitu memperhatikan sistim budidayanya. Hal ini bisa terjadi karena belum ada nilai ekonomi yang mebedakannya dari jenis pisang lainnya, padahal konsumen cenderung mencari pisang loka pere’.

Jenis pisang loka pere masih ditemukan di Desa Adolang, kecamatan Pamboang, kabupaten Majene pada posisi S: -3,43436 & E: 118,89304 dan ketinggian 113 m dpl. Pada umumnya petani membudidayakan secara tradisional. Pisang loka pere berdasarkan spesiesnya termasuk Musa parasidiaca yang merupakan pisang olahan (plantain), dan juga termasuk dalam Musa acuminata karena bisa dikonsumsi sebagai buah segar.

Loka Pere pernah meraih juara I tingkat nasional yang mewakili Makassar (Sulawesi Barat masih termasuk dalam Sulawesi Selatan) dan jenis pisang ini hanya terdapat di kabupaten Majene.

Menurut Sukiman yang juga Kepala Desa Adolang dan merangkap sebagai ketua Kalompok Tani Tunas Muda dan Ketua KTNA Kec. Pamboang, Kab. Majene bahwa pemberian nama loka pere karena berdasarkan bentuknya yang rata-rata bengkok (bahasa mandar “pere”). Keberadaan loka pere tersebut sudah ada sejak nenek moyang yang dimanfaatkan penduduk sebagai sebagai makanan pokok dalam bentuk loka njoroi (pisang direbus kemudian diberi santan).

Kelebihan jenis pisang ini adalah buah rasanya enak, manis, tetap keras meskipun telah masak dan tahan disimpan lama. Pisang muda dapat direbus dan digoreng. Buah pisang baik yang masih mentah maupun yang sudah masak, juga bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan ringan.  Selain itu batangnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, daunnya sebagai pembungkus makanan dan bonggolnya bisa diolah menjadi kripik bonggol pisang.

Karakter tanaman pisang loka pere terlihat berbeda dengan karakter tanaman pisang  pada umumnya. Loka pere memiliki  tinggi tanaman mencapai 2-3 meter, batang tegak, bentuk batang bulat berwarna hijau, warna pangkal batang hijau, lingkar batang 46-68 cm, jumlah anakan 3-8 anakan.  Sesuai  standar International PlantGenetic Resources Institute (IPGRI), maka dapat dikatakan bahwa tanaman pisang tersebut memiliki tinggi yang normal karena memiliki ketinggian di atas 1 meter.

Pisang loka pere memiliki morfologi daun yang berbentuk panjang pipih, warna tepi tangkai daun ungu kemerahan, bentuk pangkal daun meruncing keduanya, warna daun bagian atas hijau, warna daun bagian bawah hijau mudah, tipe kanal terbuka dan tepi tegak, susunan daun selang-seling dan lain-lain.

Bentuk jantung pisang loka pere bulat lonjong, warna bagian luar ungu kemerahan dan bagian dalam putih kekuningan, dan kedudukan jantung berada diujung batang. Sedangkan buah berbentuk bulat, lurus dan bagian ujung lancip, ukuran buah (panjang 18-19 cm, lingkar buah 13 cm, diameter 4-4,5 cm, warna buah mentah hijau, warna buah matang kuning, warna daging buah mentah putih kekuningan, warna daging buah matang kuning emas, kulit buah tebal, rasanya manis, bentuk tandan buah menghadap keatas, jumlah sisir 5-9/tandan, jumlah buah 16-18/sisir, dan bobot 178-209,4 gram/buah.

Keunggulan lain yang dimiliki adalah: 1. Dapat beradaptasi pada kondisi lahan kering yang solumnya rendah sampai pada ketinggian 500 mdpl; 2. Tahan terhadap serangan hama dan penyakit; 3. Daya tahan periode masak buahnya lama; 4. Walapun buah kelihatan bonyok tapi masih bagus/sebenarnya tidak busuk; 5. Kalau direbus meskipun kelihatan lembek tapi setelah tetap keras kembali; 6. Mudah berkembang biak dengan anakan cukup banyak (4-11/induk) dan buah keluar setelah anakan juga cukup banyak; 7. Sangat muda dikenali dengan banyak ciri khas; 8. Menurut beberapa masyarakat yang sudah menanam di tempat lain pisang tersebut tidak memiliki rasa yang sama; 9. Loka pere dapat dijadikan sebagai olahan pangan lokal seperti kripik pisang; 10. Daun bendera tahan lama (masih hijau, tidak patah dan tidak robek) meskipun buah sudah matang; 11. Buahnya semakin mengkilat bila kena sinar matahari.

Potensi pengembangan pisang loka pere di Kabupaten Majene sangat besar. Diperlukan kerjasama berbagai pihak agar tanaman pisang loka pere dapat dilestarikan baik. Kegiatan konservasi atau pelestarian merupakan suatu bentuk pengelolaan SDG yang bertujuan untuk memelihara dan mengelola SDG tanaman agar terhindar dari kepunahan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Konservasi keragaman genetik dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu secara ex situ dan in situ. In situ berarti melestarikan tanaman pada sebaran alamnya, sedangkan ex situ adalah kegiatan memperbanyak, evaluasi, pelayanan material untuk pemulia, peneliti dan pemakai yang lain, apabila perlu juga melayani pembaharuan koleksi. (Rely)