JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Permasalahan pupuk hampir selalu muncul setiap tahun di negeri ini. Permasalahan tersebut antara lain adalah kelangkaan pupuk dimusim tanam dan harga pupuk yang cenderung meningkat. Tanpa disadari bahwa penggunaan pupuk kimia secara intensif dapat menyebabkan kesuburan tanah dan bahan organik tanah semakin menurun.

Tanaman Padi adalah merupakan salah satu komoditas andalan nasional yang mempunyai peran penting dalam perekonomian di Indonesia juga merupakan komoditas tanaman andalan di Sulawesi Barat. Pada umumnya pada saat panen padi diangkat ketempat lain sedangkan jerami sisa-sisa penen umumnya dibakar.

Menurut Tirtoutomo et al (2001) pemanfaatan jerami padi merupakan salah satu alternatif  untuk substitusi penggunaan pupuk kimia.  Kandungan hara jerami pada saat panen  bergantung pada kesuburan tanah, kualitas dan kuantitas air irigasi, jumlah pupuk yang diberikan, dan musim/iklim.  Wen (1984) menyebutkan bahwa jerami padi di Cina mengandung 0,6% N; 0,09% P; dan 1,08% K, sedangkan Ponnamperuna (1984) rata-rata kandungan hara jerami dari berbagai negara  0,57% N; 0,07% P; 1,5% K; dan 3,0 Si.

Di Indonesia rata-rata kadar hara jerami padi adalah 0,4%N, 0,02% P; 1,4% K; dan 5,6 Si.  Untuk setiap 1 ton gabah (GKG) dari pertanaman padi dihasilkan pula 1,5 ton jerami yang mengandung 9 kg N, 2 kg P, 25 kg K, 2 kg S, 70 kg Si, 6 kg Ca dan 2 kg Mg.

Jerami padi dapat memperbaiki sifat fisik tanah atau disebut sebagai pembenah tanah.  Tuherkih et al. (1994) melaporkan bahwa pembenaman jerami padi ke tanaman kedelai dapat memperbaiki kondisi tanah, mengurangi kekerasan tanah dan penetrasi lebih ringan.

Sebagai akibat semakin mahal dan langkanya pupuk an-organik (Urea, SP36, KCl, ZA) serta perlunya konservasi  hara tanah melalui pendauran ulang, maka pemanfaatan berbagai jenis pupuk organik pada tanaman perlu dikaji sebagai salah satu alternatif substitusi/pengurangan penggunaan pupuk kimia.

Kesuburan tanah di lahan kita dapat dipertahankan dengan memanfaatkan limbah pertanian yang ada disekitar kita khususnya jerami padi yang merupakan potensi bahan lokal yang dapat diolah menjadi pupuk organik dan kompos. Pada saat panen limbah ini sangat berlimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagaimana diketahui bahwa manfaat pupuk organik adalah Meningkatkan struktur tanah, mengurangi erosi, Menahan pemadatan, meningkatkan Mengatur dan menstabilkan pH,  menyehatkan tanah dan menekan perkembangan penyakit tanaman.

Waktu pengomposan sebaiknya segera dilakukan setelah panen, yaitu sehingga kompos tersebut dapat digunakan pada saat persemaian atau pada saat penyiapan bibit. Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lainnya misalnya rumput-rumputan, sisa-sisa daun ataupun tanaman lainnya.

Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut disimpan. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga dipikirkan untuk kemudahan saat aplikasi. Jika petak sawah cukup luas sebaiknya di buat di beberapa tempat yang terpisah.

Peralatan dan bahan yang perlu di persiapkan dalam pengomposan adalah: 1). Sabiit/parang, 2). Cetakan yang dibuat dari bambu. Cetakan ini dibuat seperti pagar yang terdiri dari 4 bagian. Dua bagian berukuran 2x1 m dan 2 bagian yang lain berukuran 1x1 m, 3). Ember atau bak untuk tempat air, 4). Air yang cukup untuk membasahi jerami, 5). Aktivator pengomposan ( Promi), 6). Tali, 7). Plastik penutup. Plastik ini bisa dibuat plastic mulsa atau terpal yang berwarna hitam.

Selanjutnya tahapan dalam pembuatan kompos jerami antara lain: 1). Siapkan bak dan air, masukkan air kedalam bak atau wadah penampungan air, kemudian larutkan bahan activator promi dengan dosis 1 bungkus per 200 liter air untuk 1 ton jerami atau sesuai dengan volume bahan yang disiapkan, 2). Siapkan cetakan dari bambu. Pasang cetakan tersebut. Sesuaikan ukuran cetakan dengan jerami dan seresah yang tersedia. Apabila jerami cukup banyak cetakan dapat berukuran 2x1x1m namun bila jerami sedikit cetakan bisa dibuat lebih kecil dari ukuran tersebut,

3). Limbah jerami tersebut dimasukkan kedalam cetakan dan dapat ditambah dengan kotoran ternak atau limbah lainnya. Limbah ditumpuk setinggi 15-20 cm kemudian siramkan activator yang telah disiapkan merata dipermukaan jerami, selanjutnya diinjak-injak hingga padat. Ulangi langkah-langkah tersebut hingga penuh atau seluruh jerami/seresah telah dimasukkan kedalam cetakan. Setelah cetakan penuh, buka tali pengikatnya dan lepaskan cetakan, 4). Tutup tumpukan jerami tersebut dengan plastic atau terpal yang telah disiapkan. Ikat dengan plastik agar tidak mudah lepas, kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat agar plastic tidak terbuka karena angin. Lakukan pengamatan suhu, penyusutan volume dan perubahan warna tumpukan jerami. Fermentasi/inkubasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih 1 bulan.

Berikutnya adalah melakukan pengamatan selama fermentasi. Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna.

Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan suhu cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 0C. pada saat suhu meningkat, mikroba akan giat melakukan penguraian/dekomposisi jerami. Akibat penguraian jerami, volume tumpukan jerami akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 50% dari volume semula. Sejalan dengan itu warna jerami juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman.

Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya peruabahan fisik jerami. Perubahan itu anatara lain: a). Jerami berwarna coklat kehitam-hitaman, b). Lunak dan mudah dihancurkan, c). Suhu tumpukan mendekati suhu awal pengomposan, d). Tidak berbau menyengat, e). Volume menyusut hingga setengahnya.

Kiranya dapat bermanfaat dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah pertanian serta stop untuk membakar jerami . (Reli)