JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

         Bahasa Mandar dikenal dengan nama Tarreang atau Bailo, Jewawut merupakan salah satu tanaman pangan atau sejenis tanaman serealia berbiji kecil. komditas ini pernah menjadi makanan pokok di berbagai negara di dunia (termasuk beberapa daerah di Indonesia) sebelum budidaya padi dikenal. Sayangnya, Jawawut atau Jewawut mulai dilupakan dan terabaikan. Padahal tanaman pangan ini memiliki kandungan nutrisi (protein dan kalsium) yang lebih baik ketimbang beras (Anonim, 2015).

Di Sulawesi Barat Jewawut dikenal masyarakat dengan nama Tarreang atau Bailo, khususnya di Majene dan Polewali Mandar. sedangkan beberapa daerah lain di Indonesia dikenal dengan berbagai nama lokal yang berbeda-beda seperti: nama ba’tan (Toraja); jawa (Palembang); jaba ikur (Batak); jaba uré (Toba); jĕlui (Riau); sĕkui (Melayu); sĕkuai, sakui, sakuih (Minangkabau); randau (Lampung); dan jawae (Dayak).

Menurut Marthen P. Sirappa, dkk (2014), tanaman jewawut memiliki adaptasi yang baik pada daerah yang curah hujannya rendah sampai daerah kering.  Kandungan karbohidrat mendekati beras (75%), namun kandungan proteinnya lebih tinggi (11%) dari beras (7%), terutama protein gluten. Jewawut mengandung beragam komponen penting yang berpotensi meningkatkan kesehatan tubuh, antara lain senyawa antioksidan, senyawa bioaktif, dan serat, sehingga sangat potensial sebagai salah satu bahan diversifikasi pangan.

Berdasarkan hasil Survey Pengelolaan Sumber Daya Genetik yang dilakukan oleh Tim BPTP Sulawesi Barat (Marthen P. Sirappa, dkk) Tahun 2014 dan 2015, keberadaan Jewawut di Kabupaten Majene ditemukan di dusun Takapa’, desa Lombang, kecamatan Malunda, pada posisi S:0709712 dan E:9667962, pada ketinggian 283 m dpl.  Sedangkan di Kabupaten Polman berada di Dusun Pambusuan, Desa Pambusuan, Kecamatan Balanipa, pada posisi S: 0731142 dan E: 9612789, pada ketinggian 14 m dpl.

Jenis Jewawut/Tarreang yang ditemukan di Kabupaten Polman ada 6 jenis yaitu Tarreang lasse’, Lelamun, Bulawan, Delima, The dan Putih. Sedangkan yang  ditemukan di Majene ada dua, yaitu gabah warna kuning, berbulu dan bagian ujung tidak bercabang (yang umum ditemukan di tempat lain) dan gabah warna coklat, berbulu dan bagian ujung malai bercabang banyak menyerupai tapak kaki. Menurut informasi dari petani pemilik, jewawut warna coklat tergolong jenis pulut. Di Majene, jewawut jenis coklat ini juga digunakan petani sebagai pelindung hama, terutama babi hutan sehingga banyak ditanam sebagai tanaman pinggiran di kebun petani.  Umur panen sekitar 3 bulan dengan tinggi tanaman dapat mencapai 150 cm.

Pemanfaatan jewawut di Sulawesi Barat masih sebatas dijadikan bubur, dodol dan diolah sebagai kue kering. Pada hal di beberapa daerah lain dapat dibuat wajik atau mie. Tanaman jewawut juga dapat diolah menjadi tepung untuk mensubtitusi tepung beras. Selain sebagai bahan makanan, Jawawut pun kerap dipergunakan sebagai pakan ternak (daunnya) dan sebagai pakan burung. Pemanfaatan seperti ini merupakan potensi bagi petani untuk terus dikembangkan.

Jewawut dapat ditanam di daerah semi kering dengan curah hujan kurang dari 125 mm selama masa pertumbuhan yang pada umumnya sekitar 3-4 bulan. Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan dan rentan terhadap periode musim kering yang lama. Di daerah tropis, tanaman ini dapat tumbuh pada daerah semi kering sampai ketinggian 2.000 m dpl. Tanaman ini menyukai lahan subur dan dapat tumbuh baik pada bebagai jenis tanah, seperti tanah berpasir hingga tanah liat yang padat, dan bahkan tetap tumbuh pada tanah miskin hara atau tanah pinggiran. Sedangkan pH yang cocok untuk tanaman ini adalah 4-8. (Grubben dan Partohardjono, 1996).

Teknik budidaya tanaman jewawut dapat dilakukan dengan sistem olah tanah baik sistem olah tanah konvensional (yang menggunakan guludan/ bedengan) maupun sistem olah tanah minimum (pada tanah yang subur atau gembur) dan sistem tanpa olah tanah. Prinsip dari sistem olah tanah konvensional (guludan atau bedengan) adalah mengolah tanah secara keseluruhan, yaitu dengan cara manual dan menggunakan cangkul atau linggis kemudian membongkar dan membalik tanah lalu diratakan. Tanah yang telah bersih kemudian dibentuk guludan atau semacam bedengan. Guludan adalah tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng. Tinggi tumpukan tanah sekitar 25–30 cm dengan lebar dasar sekitar 30–40 cm. Guludan dapat diperkuat dengan menanam rumput atau tanaman perdu (Chairani, 2010).

Pengolahan tanah minimum hanya dapat dilakukan pada tanah yang gembur. Tanah gembur dapat terbentuk sebagai hasil dari penggunaan mulsa secara terus menerus dan atau pemberian pupuk (baik pupuk hijau, pupuk kandang, atau kompos) dari bahan organik yang lain secara terus menerus. Penerapan teknik pengolahan tanah minimum perlu disertai dengan pemberian mulsa.  (Chairani,2010).

Untuk sistem tanpa olah tanah, juga bisa diterapkan pada tanah-tanah yang subur atau gembur. Sistem tanpa olah tanah merupakan bagian dari konsep olah tanah konservasi yang mengacu kepada suatu sistem olah tanah yang melibatkan pengolahan mulsa tanaman ataupun gulma (tanaman pengganggu). Persiapan lahan cukup dilakukan dengan penyemprotan, gulma mulai mati dan mengering, lalu direbahkan selanjutnya dibenamkan dalam lumpur (Nursyamsi, 2004).

Jewawut dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti dengan padi gogo. Tanaman jewawut berumur lebih cepat sekitar satu  bulan dari padi karena berumur 3 bulan, sehingga jewawut tergolong lebih hemat menggunakan air dari pada padi dan jagung. Sedangkan jewawut yang ditanam sisipan dengan tanaman jagung memiliki umur panen yang bersamaan dengan jagung.

Penanamannya dapat dilakukan di lahan maupun di dalam green house. Benih jewawut tidak disemaikan tetapi dapat langsung di tanam pada suatu media tanam ataupun lahan penanaman dengan cara ditaburkan atau ditanam dalam lubang tanam. Jarak tanam yang cocok untuk tanaman jewawut pada luas areal 2 x 3 meter adalah 75 x 20 cm atau 70x 25 cm. Kebutuhan benih 8-10 kg/ha apabila jenis yang ditanam hanya juwawut.  

  • Penyulaman; mengganti tanaman lama yang tumbuhnya tidak normal, rusak atau terkena hama penyakit dengan mencabut seluruh akarrnya kemudian diganti dengan tanaman baru pada lubang bekas tanaman tersebut.
  • Pemberian Ajir; Pemberian cagak untuk memperkuat berdirinya juwawut. Biasanya dilakukan 2-3 MST.
  • Pemangkasan; merupakan proses pemotongan tunas/cabang yang tumbuh tidak produktif. Pelaksanaannya dilakukan 2 tahap, pertama pada saat pemasangan ajir selanjutnya pemangkasan kedua dilakukan 3-4 minggu setelah pemangkasan pertama.
  • Penyiangan; penyiangan dengan membersihkan  gulma yang mengganggu disekitar pertanaman.
  • Pemupukan; dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk Urea, TSP dan KCL dengan perbandingan 2 : 1 : 1 dan jika perlu menambahkan fosfor sebagai pelengkap.
  • Proses pemeliharaannya; yang perlu dilakukan adalah penyiraman di mana di lakukan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Penyiraman ini sebaiknya dilakukan 2 kali sehari agar tanaman tersebut tidak mengalami kekeringan selama pertumbuhannya.
  • Penyulaman; perlu juga dilakukan jika ada tanaman yang tidak tumbuh pada suatu lubang tanam. Selain itu, dapat pula dilakukan penyiangan untuk membersihkannya dari hama dan penyakit seperti gulma dan serangga perusak tanaman dengan menyemprotkan pestisida ke bagian tanaman yang terserang.
  • Pengendalian hama & penyakit; Tanaman juwawut termasuk tanaman yang tahan terhadap serangan hama penyakit. Meskipun demikian tetap ada beberapa jenis hama dan penyakit yang menyerang, namun apabila tanaman ini dirawat dengan baik kecil kemungkinan akan terserang hama penyakit. Oleh karena itu tindakan preventif / berjaga-jaga sangat dianjurkan agar tanaman tidak terserang. (Rely)

 

(Jewawut “Tarreang” yang masih dibudidayakan di Balanipa, Kab. Polman, Sulbar. Foto: Religius Heryanto)