JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

        Kementerian Pertanian telah menetapkan sebelas arah Kebijakan Pembangunan Pertanian tahun 2015 – 2019 dengan tujuan utama untuk mencapai kemandirian pangan yang kuat dan berkelanjutan sekaligus ramah lingkungan. Untuk mendukung tercapainya kemandirian pangan tersebut, telah dilakukan berbagai upaya, antara lain melalui pemberdayaan sumber daya manusia pertanian pada kawasan sentra produksi sub sektor tanaman pangan, perkebunan, hortikultura dan peternakan yang meliputi  8 (delapan) komoditas strategis nasional  yaitu padi, jagung, kedelai, tebu, kakao, cabai, bawang merah dan sapi potong.

Berkaitan dengan hal tersebut peningkatan produksi hasil pertanian dengan memperhartikan kaidah-kaidah atau norma ramah lingkungan yang dikenal dengan GAP (Good Agriculture Practice). GAP merupakan satu ketentuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang ditujukan untuk memperoleh produk berkualitas yang aman konsumsi, dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya lahan, keselamatan pekerja, dan kesejahteraan petani sebagai pelaku usaha.

Kendala saat ini adalah semakin semaraknya penggunaan pestisida kimia yang banyak digunakan oleh petani yang tentunya memiliki dampak negative bagi lingkungan (tanah dan tanaman) dan kesehatan  manusia pada umunya (pekerja dan konsumen). Oleh karena salah satu dari beberapa budidaya pertanian melalui teknologi GAP adalah bagaimana menggunakan bahan pestisida nabati dalam menggantikan penggunaan pestisida kimiawi, dengan pertimbangan bahwa pestisida nabati diperoleh dari bahan organic yang ada dan tidak mengandung residu.

Pestisida Nabati diartikan sebagai pestisida yang bahan aktifnya  dieksplorasi /diambil  dari tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan OPT Oleh karena kandungan bioaktifnya, tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk pengendalian OPT. Pestisida nabati merupakan salah satu alternative, pengendalian yang ramah lingkungan dengan membangun kembali jiwa petani yang akrab dengan  lingkungannya (M. Syakir, 2011).

Beberapa keunggulan dari Pestisida Nabati adalah 1) Sifatnya mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang, 2) Bahan baku pestisida nabati banyak tersedia dialam terutama di daerah tropis, 3) Secara ekonomi relatif murah, 4) Mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas, 5) Apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu dan residunya cepat hilang di alam sehingga tanaman terbebas dari residu dan aman untuk dikonsumsi  (Anonim, 2015).

Jenis Tanaman Yang Berpotensi Jadi Bahan Pestisida adalah :

  1. Kelompok tumbuhan insektisida nabati. Merupakan kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama insekta. Bengkoang, serai, sirsak, dan srikaya diyakini bisa menanggulangi serang serangan serangga,
  2. Kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat. Di dalam tumbuhan ini ada suatu bahan kimia yang menyerupai sex pheromon pada serangga betina dan bertugas menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Tumbuhan yang bisa diambil manfaatnya, daun wangi (kemangi), dan selasih.
  3. Kelompok tumbuhan rodentisida nabati, kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama rodentia. Tumbuh-tumbuhan ini terbagi jadi dua jenis, yaitu sebagai penekan kelahiran dan penekan populasi, yaitu meracuninya. Tumbuhan yang termasuk kelompok penekan kelahiran umumnya mengandung steroid. Sedangkan yang tergolong penekan populasi biasanya mengandung alkaloid. Jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai rodentisida nabati adalah gadung racun,
  4. Kelompok tumbuhan moluskisida adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama moluska. Beberapa tanaman menimbulkan pengaruh moluskisida. Diantaranya daun sembung dan akar tuba.
  5. Kelompok Tanaman Fungisida Nabati. Merupakan kelompok tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan jamur patogenik antara lain cengkeh, daun sirih, sereh, pinang, tembakau.
  6. kelompok tumbuhan pestisida serba guna, dimana kelebihan kelompok ini tak hanya berfungsi untuk satu jenis. Misalnya insektisida saja, tapi juga berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, moluskisida, dan nematisida. Tumbuhan yang bisa dimanfaatkan dari kelompok ini, yaitu jambu mete, Sirih, Tembakau dan nimb, (Badan Litbang Pertanian, 2011).

Menurut Abd Gaffar (2016) bahwa ada beberapa ramuan pestisida nabati yang dapat diaplikasikan untuk mengendalikan OPT pada tanaman padi diantaranya adalah:

a). Pestisida Nabati untuk mengendalikan hama secara umum : Bahan : Daun mimba 8 kg, Lengkuas  6 kg, Serai 6 kg, Deterjen/sabun colek 20 g, Air 20 l. Cara membuat Daun mimba, lengkuas, dan serai ditumbuk atau dihaluskan. Seluruh bahan diaduk merata dalam 20 l air lalu direndam sehari semalam (24 jam). Keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus. Larutan hasil penyaringan diencerkan kembali dengan 60 l air. Larutan sebanyak itu digunakan untuk lahan seluas 1 ha. Cara pengaplikasian: Semprotkan cairan tersebut pada tanaman yang akan dilindungi.

b). Pestisida Nabati untuk mengendalikan hama Tikus: Bahan : Umbi gadung racun, atau gadung KB 1 kg, Dedak (padi atau jagung) 10 kg,  Tepung ikan 1 ons, Kemiri (sebagai bahan penarik) sedikit, Air sedikit, Cara membuat : Umbi gadung dikupas lalu dihaluskan. Semua bahan dicampur, diaduk rata, dan dibuat dalam bentuk pelet kering. Perbandingan umbi gadung dan campuran bahan lain adalah 1 : 10. Cara pengaplikasian: Pelet-pelet umbi gadung ditebarkan di pematang, di sarang tikus, atau di jalan-jalan yang dilewati tikus.

c). Pestisida Nabati untuk mengendalikan hama keong mas: Bahan : Akar tuba 5-10  g, atau Daun sembung 10-20 g, Deterjen/sabun colek  1 g, Air 1 l. Cara membuat : Akar tuba atau daun sembung dihaluskan diaduk mereta dalam 1 l air dan ditambahkan sekitar 1 cc deterjen cair/sabun colek. Larutan diendapkan semalam lalu disaring. Cara pengaplikasian : Semprotkan atau siramkan larutan pada lahan atau sawah yang dihuni keong mas.

d). Pestisida Nabati untuk mengendalikan hama wereng coklat, walang sangit dan penggerek batang: Bahan : Biji mimba  50 g, Alkohol  10 cc,  Air 1 l. Cara membuat : Biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan 10 cc alkohol lalu diencerkan dengan 1 l air. Larutan diendapkan semalam. Keesokan harinya larutan disaring. Cara pengaplikasian : Semprotkan cairan pada tanaman yang terserang, atau langsung pada hamanya. Hama tidak langsung mati segera setelah disemprot, tetapi memerlukan waktu 2-3 hari untuk mati.

e). Pestisida Nabati Untuk Mengendalikan Penyakit Padi yang disebabkan Oleh Cendawan: Bahan: Daun tembakau  1 kg, Cabai rawit 1 kg, Bawang merah 1 kg, Kapur 100 g, Belerang 100 g,  Air secukupnya. Cara pembuatan: Semua bahan ramuan digiling menjadi satu hingga lembut, lalu ditambahkan air sebanyak 1/10 bagian bahan. Setelah itu, peras airnya agar mudah disaring. Cara pengaplikasian: Dosis pengaplikasiannya adalah setiap 1ml larutan pestisida dicampur dengan 250 ml air. Untuk satu tabung sprayer, dosisnya sebanyak 60 ml dan dicampur dengan 15 liter air. Larutan ini disemprotkan pada tanaman yang terserang penyakit.

           Pemanfaatan pestisida nabati dalam kegiatan bertani dianggap sebagai cara pengendalian yang ramah lingkungan, sehingga diperkenankan penggunaannya dalam kegiatan pertanian organik. Namun demikian dalam pengembangannya, terdapat beberapa kendala, antara lain: (1) pestisida nabati tidak bereaksi cepat (knockdown) atau relatif lambat membunuh hama, tidak seperti pestisida kimia sintetik yang relatif cepat dan hal ini disukai petani, sehingga mereka lebih memilih pestisida kimia sintetik dalam kegiatan pengendalian OPT, (2) Membanjirnya produk pestisida ke Indonesia, salah satunya dari China, yang harganya lebih murah serta longgarnya peraturan pendaftaran dan perizinan pestisida di Indonesia kondisi ini membuat jumlah pestisida yang beredar di pasaran semakin bervariasi dan hingga saat ini tercatat sekitar 3.000 jenis pestisida yang beredar di Indonesia.

Hal ini membuat para pengguna/petani mempunyai banyak pilihan dalam penggunaan pestisida kimia sintetik karena bersifat instan sehingga menghambat pengembangan penggunaan pestisida nabati, (3) Bahan baku pestisida nabati relatif masih terbatas karena kurangnya dukungan pemerintah (Political Will) dan kesadaran petani terhadap penggunaan pestisida nabati masih rendah, sehingga enggan menanam atau memperbanyak tanamannya, (4) peraturan perizinan pestisida nabati yang disamakan dengan pestisida kimia sintetik membuat pestisida nabati sulit mendapatkan izin edar dan diperjualbelikan. Akibatnya, apabila tersedia dana untuk kegiatan yang memerlukan pestisida dalam jumlah yang banyak maka pilihan jatuh kepada pestisida kimia sintetik karena salah satu persyaratan dalam pembeliannya adalah sudah terdaftar dan diizinkan penggunaannya (M. Syakir, 2011).

Pestisida alami merupakan pemecahan jangka pendek untuk mengatasi masalah hama dengan cepat, penggunaan bahan-bahan alami untuk mengusir atau menghalau musuh-musuh alami yang menyerang tanaman, tanpa harus mematikannya, sehingga siklus ekosistem masih tetap terjaga, dengan menggunakan pestisida berbahan organik/ alamiah. Pestisida nabati yang akrab lingkungan, disebut demikian karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai, dapat dibuat oleh petani karena bahan baku tersedia disekitar lokasi, dan harga pembuatan yang terjangkau.

Strategi yang dapat ditempuh dalam Pengembangan Pestisida Nabati adalah melakukan Identifikasi dan eksplorasi tumbuhan berpotensi sebagai pestisida nabati, Pemisahan dan identifikasi senyawa aktif, Pengujian kemampuan daya bunuh, cara kerja, daya racun terhadap organisme bukan sasaran, sifat-sifat lingkungannya serta kemungkinan bentuk formulasi yang efektif untuk aplikasi. Dengan menggunakan pestisida yang ramah lingkungan (organik) merupakan suatu hal yang patut ditiru karena selain ramah lingkungan, permodalanpun dapat ditekan dan hasilnya juga sehat. “Mari kurangi penggunaan pestisida kimia dan kembali ke alami”. (Rely)

(Image : Contoh Tumbuhan yang dapat dijadikan Pestisida Nabati)