JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

        Penyediaan pangan bagi penduduk Indonesia yang semakin bertambah memerlukan upaya nyata peningkatan produksi padi.  Kebutuhan beras terus meningkat setiap tahun seiring dengan peningkatan penduduk. Namun persoalannya, budidaya padi dewasa ini dihadapkan pada perubahan iklim global yang jika tidak stabilitas perberasan nasional akan terganggu. Perubahan iklim global telah membawa dampak nyata pada sektor pertanian dalam bentuk pergeseran musim. Dampak dari perubahan Iklim adalah meningkatnya kejadian iklim ekstrim, berubahnya pola hujan, bergesernya awal musim, banjir, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut. Perubahan itu otomatis merubah pola tanam padi di Indonesia dan memicu perubahan pola hidup OPT (organisme penganggu tanaman) yang dapat menyebabkan ledakan hama penyakit tanaman padi.

Fenomena ini berdampak langsung pada meningkatnya tekanan abiotik dan biotik bagi lahan pertanian. Tekanan abiotik seperti meningkatnya areal lahan marginal (kekeringan, kemasaman, kahat pupuk utamanya nitrogen), sedangkan tekanan biotik seperti ledakan hama dan penyakit karena iklim yang tidak menentu atau munculnya hama atau penyakit yang sebelumnya bukan utama menjadi utama dan sebaliknya yang disebabkan oleh perubahan iklim baik makro maupun mikro (Muhammad A, dkk, 2013).

Guna mengantisipasi dan menghadapi perubahan iklim, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan teknologi padi dalam mengantisipasi perubahan iklim. Salah satu upaya inovasi teknologi yang diandalkan dalam peningkatan produktivitas padi adalah varietas unggul baru berdaya hasil tinggi.  Varietas Unggul baru merupakan komponen teknologi yang memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan produksi padi.

Inovasi teknologi padi yang telah disiapkan adalah varietas padi toleran terhadap cekaman abiotik seperti rendaman (banjir), kekeringan, dan salinitas. Varietas padi yang berumur genjah dan tahan terhadap hama dan penyakit juga tersedia di samping inovasi teknologi budidaya dan pengendalian hama dan penyakit terpadu. Penamaan varietas unggul baru (VUB) padi saat ini tidak lagi mempergunakan nama sungai, tetapi mengikuti penamaan padi hibrida yang telah memakai Hipa (Hibrida padi). Penamaan VUB untuk ekosistem sawah irigasi memakai nama Inpari (Inbrida Padi Irigasi), ekosistem rawa memakai nama Inpara (Inbrida Padi Rawa), dan lahan kering memakai nama Inpago (Inbrida Padi Gogo).

Balitbangtan telah melepas sejumlah varietas unggul padi yang toleran terhadap dampak perubahan iklim. Karakteristik beberapa varietas unggul tersebut adalah: umur genjah, tahan dan adaptif terhadap kekeringan dan dapat bertahan pada dua kondisi iklim yang berbeda yaitu lahan kering dan lahan genangan (Amfibi).  Varietas-varietas tersebut adalah: Limboto, Batutegi, Towuti, Situ Patenggang, Situ Bagendit, Inpari 10 Laeya, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7 Inpago 8, dan Inpago 9  (Balitbangtan, 2015).

Varietas unggul amfibi tersebut dinilai mampu bertahan pada kondisi kering sebagaimana halnya pagi gogo (ladang) dengan potensial air tanah (pF) sampai 2,90 dan juga mampu bertahan dan berproduksi baik pada kondisi tergenang sebagaimana padi sawah, terutama pada musim kemarau atau kondisi iklim yang kurang menentu seperti varietas  Situ Bagendit dan Inpago yang merupakan varietas pagi gogo/lahan kering, namun mampu beradaptasi dengan baik pada kondisi tergenang pada lahan sawah. Sebaliknya, Inpari 10 Laeya yang merupakan padi sawah irigasi, mampu beradaptasi baik pada kondisi kekeringan dilahan sawah dan juga beradaptasi baik pada lahan tadah hujan dan gogo, (Balitbangtan, 2015).

Sedangkan varietas toleran rendaman meliputi Inpari 29, Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpara 4, Inpara 5, dan toleran salinitas adalah varietas Inpari 34 dan Inpari 35.Untuk padi yang relatif toleran terhadap kekeringan pada padi sawah irigasi varietas Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20 dengan potensi hasil 8,0-9,5 t/ha. Keempat varietas unggul ini tahan terhadap hama wereng batang coklat (WBC) dan penyakit hawar daun bakteri (HDB) (Balitbangtan, 2015).

Berbeda dengan varietas Inpari lainnya, Inpari 34 Salin Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan toleran terhadap salinitas pada fase bibit. Keunggulan lainnya dari kedua varietas ini adalah berdaya hasil tinggi, mencapai 9,5 dan 9,6 t/ha, tahan penyakit blas yang kini juga telah mulai merusak pertanaman padi sawah di beberapa daerah, dan agak tahan terhadap hama WBC. Padi rawa pasang surut varietas Inpara 5 toleran salinitas, potensi hasil 7,2 t/ha.

Selain itu balitbangtan juga menghasilkan padi varietas Inpari 9 Elo yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro dengan potensi hasil 9,3 t/ha. Varietas Inpari 15 Parahiyangan tahan penyakit blas ras 033 dengan potensi hasil 7,5 t/ha. Padi unggul varietas Inpari 28 Kerinci tahan terhadap penyakit hawar daun patotipe III dengan potensi hasil 9,5 t/ha. Selain itu konsep budidaya padi hemat air merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan yaitu dengan sistem pengairan basah dan kering. Pengairan sistem basah kering atau pengairan berselang merupakan suatu metode pengairan dengan prinsip utama memberikan air pada tanaman sesuai dengan tingkat kebutuhan tanaman. Model sistem pengairan basah dan kering merupakan suatu model pengairan yang dapat menghemat penggunaan air sampai 30% dengan tidak menurunkan produksi tanaman. Ini berarti bahwa luas areal yang mendapatkan tambahan pengairan bisa meningkat (Balitbangtan, 2012).

Metode pengairan basah dan kering juga dikenal dengan sistem pengairan berselang, dimana dalam kondisi tertentu tanaman dalam kondisi macak-macak dan pada periode tertentu dalam kondisi tergenang. Pengairan berselang atau disebut juga intermitten adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian. Pengairan berselang memberi kesempatan kepada akar untuk berkembang lebih baik, pengairan berselang mengurangi kerebahan, mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat, mengurangi kerebahan, mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif (tidak menghasilkan malai dan gabah), menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen, memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah (lapisan olah), memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, mengurangi kerusakan tanaman padi karena hama tikus (Puslitbangtan, 2011).

Cara pengairan berselang: (1) Tanam bibit dalam kondisi sawah macakmacak; (2) Secara berangsur tanah diairi 2-5 cm sampai tanaman berumur 10 hari; (3) Biarkan sawah mengering sendiri, tanpa diairi (biasanya 5-6 hari); (4) Setelah permukaan tanah retak selama 1 hari, sawah kembali diairi setinggi 5 cm; (5) Biarkan sawah mengering sendiri, tanpa diairi (5-6 hari) lalu diairi setinggi 5 cm. Pengairan berselang memerlukan pengaturan kapan lahan digenangi dan dikeringkan.  Ulangi hal di atas sampai tanaman masuk stadia pembungaan.  Sejak fase keluar bunga sampai 10 hari sebelum panen, lahan terus diairi setinggi 5 cm, kemudian lahan dikeringkan.  Sepuluh hari sebelum panen lahan dikeringkan. (Rely)