Obat Antikanker dari Ekstrak Karang Lunak

Potensi laut sebagai sumber bahan baku obat-obatan atau biofarmaka laut terus ditelisik. Organisme laut seperti karang ditengarai mempunyai potensi sebagai obat antikanker. Tim mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) meneliti kandungan obat pada karang lunak (Sarcophyton).

Mereka adalah Tio Dwi Wibisono Ariefianto Tri Mahadi, Paradita Hasanah, Tri Nur Sujatmiko yang menguak kandungan antikanker dan antibakteri dari ekstrak karang lunak. Tim yang menjadi juara ke-3 di ajang pekan ilmiah mahasiswa nasional (pimnas) Agustus lalu itu mengambil sampel karang dari perairan sekitar pulau Krakatau, Selat Sunda, dengan pertimbangan karang disana masih murni dan belum rusak.

Sampel jenis karang yang tidak dapat berubah menjadi terumbu karang itu dibuat ekstrak dan dipisahkan zat metabolit sekunder yang dikandungnya. Selanjutnya dilakukan uji biologis dan dianalisis kemampuannya mengatasi penyakit kanker.

Empat bulan lamanya Tio dan kawan-kawan memastikan adanya aktivitas bioaktif (antibakteri) dan tokisitas (antikanker) dari ekstrak karang lunak baik di perairan tersidifikasi (asam) dan non-asidifikasi. Hasil riset mereka menunjukkan jika kandungan antikanker Sarcophytonsp dari daerah teridentifikasi sangat baik dalam membunuh sel kanker payudara.

"Saya melihat potensi obat kanker tidak cuma dari darat, tetapi juga dari laut. Penemuan ini diharapkan dapat membantu mengatasi penyakit kanker", Kata Tio. Salah satu komponen bioaktif dihasilkan karang lunak bersifat inhibitor protease yang bisa menghambat aktivitas enzim pada bakteri maupun kerja sel-sel kanker.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anna Manuputty, menjelaskan, Sarcophyton  sp. merupakan jenis karang lunak yang berpotensi untuk dijadikan sumber antioksidan. Upaya Transplantasi yang dilakukan, selain untuk memperbanyak dan melestarikan spesies juga dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan.

"Dengan begitu pemanfaatan karang lunak untuk bahan bakuobat tidak perlu dikhawatirkan mengancam kelestariannya karena bisa melalui transplantasi," tegasnya. Karang lunak Sarcophyton sp. hasil transplantasi memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang alami. Hal itu karena proses penutupan luka yang terjadi ketika transplantasi menghasilkan metabolit sekunder sehingga aktifitas antioksidan lebih tinggi serta menghasilkan senyawa alkaloid.

Salah satu komponen bioaktif dihasilkan karang lunak bersifat inhibitor protease yang bisa menghambat aktivitas enzim pada bakteri maupun kerja sel-sel kanker. Ekstrak karang lunak mampu menghambat sempuran bakteri gram positif secara efektif.

Manuputty memaparkan, karang lunak memiliki zat beracun berupa senyawa organik yang dinamai terpen. Didalam ekosistem, zat tersebut digunakan untuk menghambat bahkan mematikan organisme pesaingnya. "Risetnya menunjukkan zat tersebut bisa digunakan untuk menghambat atau membunuh sel-sel kanker," bebernya.

Sementara itu Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir, mengatakan, riset biofarmaka hingga ke hilir (tahap indrustrilisasi) diyakini mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor. Maklum saja, seperti dilansir Kementerian Perindustrian, 90% bahan baku obat-obatan masih harus dimpor. sebagian besar dari China dan India. Tahun 2015 nilai impor mencapai 5,83 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 76,99 triliun atau naik10% dari tahun 2014 sebesar 5,3 miliar dolar AS (setara Rp69,9 triliun).

"Kami ingin mendorong bahan baku obat agar diproduksi di Indonesia, agar harga obat-obatan lebih murah. Riset ke pencarian formula bahan baku obat harus digelorakan," ujar Nasir. Senada denga Nasir, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek berupaya mendorong industri farmasi dalam negeri untuk menekan harga obat. Pasalnya, harga obat tinggi karena bahan bakunya sebagian besar diperoleh dari impor.

Dia mengatakan, pemerintah akan mengurangi ketergantungan bahan baku obat impor, dan pada akhirnya harga obat akan bisa ditekan."Akan diterbitkan intruksi presiden untuk mempercepat kemandirian dan daya saing industri obat di dalam negeri,"tutrnya.

 

Sumber: Majalah Sains Indonesia

 

Contact Info

  • E: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • Map (Peta Lokasi)
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…