JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sejak dahulu, gambir telah digunakan sebagai tanaman tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Tanaman ini mengandung senyawa polifenol meliputi tanin, katenin, dan gambiriin yang bersifat sebagai antioksidan. Seluruh senyawa tersebut bermanfaat untuk mengobati penyakit atau menangkap radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Sebagaimana diketahui, diet yang kaya antioksidan akan menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, dan proses degeneratif penuaan.

Karena manfaatnya, tanaman ini tidak luput dari perhatian negara-negara lain menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan. selama ini gambir sudah diekspor ke berbagai negara terutama ke India, Pakistan, Singapura, Thailand dan Malaysia. Pada 2014, ekspor gambir (dalam bentuk mentah) tercatat mencapai 14 ribu ton ke 10 negara di dunia dengan jumlah terbesar ke India mencapai 12 ribu ton. Indonesia bahkan memasok sekitar 90% kebutuhan pasar dunia.

Di masa lampau, gambir umumnya digunakan untuk campuran menyirih. Menyirih adalah aktivitas untuk mengunyah batang dan daun gambir yang dipercaya bisa memperkuat gigi. Selain itu, gambir juga dimanfaatkan sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna tekstil. Secara tradisional, daun dan tangkai yang masih muda jamak digunakan untuk ,mengobati luka, demam, diare, disentri, sakit kepala, sakit perut, serta obat kumur untuk mengobati sakit tenggorokan serta infeksi oleh jamur dan bakteri.

Untuk mengatasi berbagai jenis gangguan mulut, seperti sariawan, bibir kering dan luka gusi, orang zaman dahulu biasa mengunyah atau menempelkan tumbukan gambir pada bagian yang terluka. begitu juga untuk proses penyembuhan luka bakar, daun gambir yang telah dihaluskan lalu ditempelkan pada bagian luka. Efek dingin yang dihasilkan mampu membuat luka cepat sembuh dan meminimalisir bekas luka.

Tanaman ini juga dipakai untuk mengatasi masalh degenerative penuaan. Ekstra manfaat gambir yang sudah dibentuk menjadi masker telah menjadi perawatan tradisional alami untuk membuat semua  gejala penuaan dini hilang. Gambir akan menghasilkan kulityang lebih kencang, cerah, dan segar. Gambir juga bias digunakan sebagai bedak dingin  seperti ekstrak beras putih.

Kandungan polifenol dalam daun gambir (Uncaria gambir Robx) sendiri telah dibuktikan dalam berbagai hasil riset. Bahkan kajian terhadap tanaman herbal ini, dalam beberapa tahun terakhir, sudah berkembang hingga ke fungsi  makanan dan minuman gambir dalam mengatur metabolisme  tubuh. Beragam produk pun sudah dihasilkan untuk memudahkan masyarakat mendapatkan manfaat dari daun gambir ini.

Salah satunya adalah teh daun gambir yang dikembangkan para peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Badan Litbang Pertanian  (Balitbangtan). “Hasil kajian menunjukkan dalam seduhan the gambir 200 ml terkandung senyawa fenolet 1,14%, pada seduhan 150ml 1,26% dan dalam seduhan 100 ml 1,48%,”papar Hernani, peneliti BB Pascapanen.

Proses pembuatan the gambir menggunakandaun the gambir kering. “untuk menghasilkan the gambir dengan formula yang pas, maka pengolahan dimulai dengan mengurangi senyawa asam katekutanak yang tidak diinginkan. Caranya, daun gambir diranjang lalu direndam dalam air dingin kurang lebih 120 menit dan ditiriskan. Daun kemudian dikeringkan dengan dijemur atau menggunakan oven dengan suhu 40ºC. Daun gambir kering lalu dikemas dalam wadah kedap udara atau dalam karung plastic,” ungka Hernani.

Daun gambir yang telah kering kemudian bias diproses menjadi teh, yaitu teh celup. Pada proses ini, daun gambir kering digiling kasar lalu dimasukkan ke dalam wadah kedap udara dan ditaburi bunga melati. Setelah didiamkan dalam semalam, bunga melati ang telah layu diambil dan dikeringkan, kemudian dicampurkan kembali ke dalam serbuk daun teh gambir. Di sini, teh gambir sudah bias untuk dikonsumsi.

 

Sumber: Majalah Sains Indonesia